BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Peningkatan
kinerja merupakan hal yang diinginkan baik dari pihak pemberi kerja maupun para
pekerja. Pemberi kerja menginginkan kinerja karyawannya baik untuk kepentingan
peningkatan hasil kerja dan keuntungan perusahaan. Disisi lain, para pekerja
berkepentingan untuk pengembangan diri dan promosi pekerjaan. Secara umum,
dapat dikaakan bahwa kinerja karyawan yang baik bertujuan untuk meningkatkan
produktivitas. Oleh karena itu, perbaikan sistem kerja dilakukan oleh setiap komponen
yang ada dalam perusahaan. Untuk tujuan tersebut akan dibutuhkan sistem
manajemen kinerja yang baik.
Manajemen
kinerja adalah proses berorientasi tujuan yang diarahkan untuk memeastikan
bahwa proses-proses keorganisasian ada pada tempatnya untuk memaksimalkan
produktivitas para karyawan, tim, dan akhirnya, organisasi.[1] Sistem manajemen kinerja
merupakan proses untuk mengidentifikasikan, mengukur, dan mengevaluasi kinerja
karyawan dalam perusahaan. Perusahaan perlu menerapkan sistem manajemen kinerja
yang baik agar para karyawan merasa adil dan nyaman dalam melaksanakan
pekerjaannya.
Manajemen
kinerja sebagai suatu proses untuk menciptakan pemahaman yang sama tentang apa
yang harus dicapai, dan pengelolaan karyawan sehingga meningkatkan kemungkinan
terjadinya tujuan.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan penilaian
kinerja?
2.
Apa saja ruang lingkup penilaian kinerja?
3.
Bagaimana cara menggunakan hasil dari
penilaian kinerja?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Mengetahui definisi dari penilaian
kinerja.
2.
Mengetahui ruang lingkup penilaian
kinerja.
3.
Mengetahui cara pemanfaatan hasil
penilaian kinerja.
BAB
2
PEMBAHASAN
A.
Penilaian
Kinerja
Kinerja
adalah hasil pekerjaan yang dicapai seseorang berdasarkan
persyaratan-persyaratan pekerjaan (job requirement). Menurut Bernadian, John
H., dan Joyce E. A. Russell, “Performance is defined as the record of the
outcomes produced on a specific job function or activity during a specific time
period”. Yang artinya, Kinerja didefinisikan sebagai catatan mengenai outcome
yang dihasilkan dari suatu aktivitas tertentu, selama kurun waktu tertentu.
Menurut
Attwood Margaret & Stuart Dimmock, definisi kata “to appraise” (menilai)
adalah “menetapkan harga untuk” atau “menilai suatu benda”. Jika menggunakan
istilah “penilaian kinerja”, berarti kita terlibat dalam proses menentukan
nilai karyawan bagi perusahaan, dengan maksud meningkatkannya.
Penilaian
kinerja adalah prosedur apa saja yang meliputi penetapan standar kinerja,
penilaian kinerja actual karyawan dalam hubungan dengan standar , memberi umpan
balik kepada karyawan dengan tujuan memotivasi karyawan untuk menghilangkan penurunan
kinerja atau terus bekerja lebih gita. (Gary Dessley)
Penilaian
kinerja adalah sistem formal untuk memeriksa atau mengkaji dan mengevaluasi
secara berkala kinerja seseorang. Kinerja dapat pula dipandang sebagai
perpaduan dari hasil kerja dan kompetensi. (Moondy and Noe)
Penilaian
kinerja adalah proses yang dilakukan organisasi untuk mengevaluasi atau menilai
keberhasilan karyawan dalam melaksanakan tugasnya. Penilaian dapat dilakukan
dengan membandingkan hasil kerja yang dicapai karyawan dengan standar
pekerjaan. Bila hasil kerja yang diperoleh sampai atau melebih standar
pekerjaan dapat dikatakan kinerja seseorang termasuk pada kategori baik.
Demikian sebaliknya, seorang karyawan yang hasil pekerjaannya tidak mencapai
standar pekerjaan termasuk pada kinerja yang tidak baik atau berkinerja rendah.
Penilaian
kinerja dapat ditinjau ke dalam jumlah dan kualitas pekerjaan yang dapat
diselesaikan karyawan pada periode tertentu. Kinerja seorang karyawan dapat
dinilai berdasarkan jumlah pekerjaan yang diselesaikan dalam batas waktu
tertentu. Karyawan yang dapat menyelesaikan pekerjaan dalam jumlah yang
melampaui standar pekerjaan dinilai dengan kinerja yang baik.
Penilaian
kinerja memliki beberapa tujuan, diantaranya:
1.
Meningkatkan kinerja karyawan dengan cara
membentuk mereka agar menyadari dan menggunakan seluruh potensi mereka dalam
mewujudkan tujuan organisasi.
2.
Memberikan informasi kepada karyawan dan
pimpinan sebagai dasar untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan
pekerjaan.
B.
Ruang
Lingkup Penilaian Kinerja
Penilaian
kinerja merupakan factor penting untuk suksesnya manajemen kinerja. Meskipun
penilaian kinerja hanyalah salah satu unsure manajemen kinerja, sistem tersebut
penting karena mencerminkan secara langsung rencana organisasi. Meskipun evaluasi
atas kinerja tim penting seiring dengan keberadaan tim-tim dalam suatu
organisasi, focus penilaian kinerja pada sebagian besar perusahaan tetap
padakaryawan individual. Sistem penilaian yang efektif akan mengevaluasi
prestasi dan rencana-rencana untuk tujuan dan sasaran.
Adapun
ruang lingkup penilaian kinerja mencakup dalam 5W + 1H (What, Where, Why, When, Who, dan How).
1.
What (Apa yang dinilai)
Yang diniai perilaku dan prestasi kerja
karyawan seperti kesetiaan, kejujuran, kerjasama, kepemimpinan, loyalitas,
pekerjaan saat sekarang, potensi yang akan datang, sifat, dan hasil kerja.
2.
Why (Kenapa dinilai)
Dinilai karena:
a.
Untuk menambah tingkat kepuasan para
karyawan dengan memberikan pengakuan terhadap hasil kerjaannya.
b.
Untuk membantu kemungkinan pengembangan
personil yang bersangkutan.
c.
Untuk memelihara potensi kerja.
d.
Untuk mengukur prestasi kerja para
karyawan.
e.
Untuk megukur kemampuan dan kecakapan
karyawan.
f.
Untuk mengumpulkan data guna menetapkan
program kepegawaian selanjutnya.
3.
Where (Dimana penilaian dilakukan)
Di tempat penilaian dilakukan di dalam
pekerjaan secara formal dan di luar pekerjaan secara formal/ non fomal.
4.
When (Kapan penilaian dilakukan)
Waktu penilaian dilakukan secara formal
dan informal dilakukan secara terus menerus.
5.
Who (Siapa yang akan dinilai)
Yang akan dinilai yaitu semua
ketenagakerjaan yang melakukan pekerjaan di perusahaan tersebut. Yang menilai
atasan langsung nya, atasan dari atasan langsung atau semua tim yang dibentuk
perusahaan itu.
6.
How (Bagaimana menilainya)
Metode penilaian apa yang digunakan dan problem apa
yang dihadapi oleh penilai dalam melakukan penilaian.
C.
Manfaat
dan Kegunaan Penilaian Kinerja
Bagi
suatu perusahaan penilaian kinerja memiliki berbagai manfaat antara lain:[2]
1.
Evaluasi Antar Individu dalam Organisasi
Penilaian kinerja dapat bertujuan untuk
menilai kinerja setiap individu dalam organisasi. Tujuan ini dapat memberi
manfaat dalam menentukan jumlah dan jenis kompensasi yang merupakan hak bagi
setiap individu dalam organsasi. Kepentingan lain atas tujuan ini adalah
sebagai dasar dalam memutuskan pemindahan pekerjaan (job transferring) pada
posisi yang tepat, promosi pekerjaan, mutasi atau demosi sampai tindakan
pemberhentian.
2.
Pengembangan Diri Setiap Individu dalam
Organisasi
Penilaian kinerja pada tujuan ini
bermanfaat untuk pengembangan karyawan. Setiap individu dalam organisasi
dinilai kinerjanya, bagi karyawan yang memiliki kinerja rendah perlu dilakukan
pengembangan baik melalui pendidikan maupun pelatihan. Karyawan yang berkinerja
rendah disebabkan kurangnya pengetahuan atas pekerjaannya akan ditingkatkan
pendidikannya, sedangkan bagi karyawan yang kurang terampil dalam pekerjaannya
akan diberi pelatihan yang sesuai.
3.
Pemeliharaan Sistem
Berbagai sistem yang ada dalam organisasi,
setiap subsistem yang ada saling berkaitan antara satu subsistem dengan
subsistem lainnya. Salah satu subsistem yang tidak berfungsi dengan baik akan
mengganggu jalannya subsistem yang lain. Oleh karena itu, sistem dalam
organisasi perlu dipelihara dengan baik. Tujuan pemeliharaan sistem akan
memberi beberapa manfaat antara lain, pengembangan perusahaan dari individu,
evaluasi pencapaian tujuan oleh individu atau tim, perencanaan sumber daya
manusia, penentuan atau identifikasi kebutuhan pengembangan organisasi, dan
audit atas sistem sumber daya manusia.
4.
Dokumentasi
Penilaian kinerja akan memberi manfaat sebagai dasar
tindak lanjut dalam posisi pekerjaan karyawan di masa yang akan datang. Manfaat
penilaian kinerja disini berkaitan dengan keputusan-keputusan manajemen sumber daya
manusia, dan sebagai criteria untuk pengujian validitas.
Secara spesisifk kegunaan
sistem penilaian kinerja:[3]
1.
Sebagai dasar pengambilan keputusan untuk:
a.
Mempromosikan pekerjaan yang berprestasi.
b.
Menindak pekerja yang kurang atau tidak
berprestasi.
c.
Melatih, memutasikan atau mendisiplinkan
pekerja.
d.
Memberi atau menunda kenaikan imbalan atau
balas jasa.
e.
Berfungsi sebagai masukan pokok dalam
penerapan sistem penghargaan dan pemberian hukuman.
2.
Sebagai criteria untuk melakukan validasi
tes atau menguji keabsahan suatu alat tes.
3.
Memberikan umpan balik kepada karyawan,
sehingga penilaian kinerja dapat berfungsi sebagai wahana pengembangan pribadi
dan pengembangan karier.
4.
Bila kebutuhan pengembangan pekerjan dapat
diidentifikasikan maka penilaian kinerja dapat membantu menentukan tujuan program
pelatihan.
5.
Jika tingkat kinerja karywan dapat
ditentukan secara tepat maka penilaian kinerja dapat membanu mendiagnosis
masalah organisasi.
Penilaian kinerja dapat
melakukan hal ini dengan mengidetifikasikan kebutuhan pelatihan dan
pengetahuan, kemampuan keterampilan, serta syarat lain yang perlu
dipertimbangkan dalam seleksi. Penilaian kinerja dapat menjadi dasar membedakan
pekerjaan yang efektif dan tidak efektif. Penilaian kinerja lebih menggambarkan
awal dari sebuah proses daripada sebagai sebuah produk akhir.
Kinerja
karyawan pada dasarnya adalah hasil kerja seorang karyawan selama periode
tertentu dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, misalnya; standar, target
atau sasaran atau kriteria yang ditentukan dan disepakati bersama. Dalam hal
penilaian tetap, mempertimbangkan berbagai situasi dan kondisi yang
mempengaruhi kinerja.
D.
Mengukur
Kinerja Karyawan
Standar pekerjaan dapat
ditentukan dari isi suatu pekerjaan, dapat dijadikan sebagai dasar penilaian
setiap pekerjaan. Untuk memudahkan penilaian kerja karyawan, standar pekerjaan
harus dapat diukur dan dipahami secara jelas. Suatu pekerjaan dapat diukur
melalui:
1.
Jumlah Pekerjaan
Setiap pekerjaan memiliki persyaratan yang
berbeda sehingga menuntut karyawan harus memenuhi persyaratan tersebut baik
pengetahuan, keterampilan, maupun kemampuan yang sesuai. Berdasarkan
persayaratan pekerjaan tersebut dapat diketahui jumlah karyawan yang dibutuhkan
untuk dapat mengerjakannya, atau setiap karyawan dapat mengerjakan berapa unit
pekerjaan.
2.
Kualitas Pekerjaan
Setiap karyawan dalam perusahaan harus
memenuhi persyaratan tertentu untuk dapat menghasilkan pekerjaan sesuai
kualitas yang dituntut suatu pekerjaan tertentu. Setiap pekerjaan tertentu.
Setiap pekerjaan mempunyai standar kualitas tertentu yang harus disesuaikan
oleh karyawan untuk dapat mengerjakannya sesuai ketentuan. Karyawan memiliki
kinerja baik bila dapat menghasilkan pekerjaan sesuai persyaratan kualitas yang
dituntut pekerjaan tersebut.
3.
Ketepatan Waktu
Setiap pekerjaan memiliki karakteristik
yang berbeda, untuk jenis pekerjaan tertentu harus diselesaikan tepat waktu,
karena memiliki ketergantungan atas pekerjaan lainnya. Jadi, bila pekerjaan
pada suatu bagian tertentu tidak selesai tepat waktu akan menghambat pekerjaan
pada bagian lain, sehingga mempengaruhi jumlah dan kualitas hasil pekerjaan.
Demikian pula, suatu pekerjaan harus diselesaikan tepat waktu karena batas
waktu pesanan pelanggan dan penggunaan hasil produksi. Pelanggan sudah
melakukan pemesanan produk sampai batas waktu tertentu. Untuk memenuhi tuntutan
tersebut, pihak perusahaan harus menghasilkannya tepat waktu. Suatu jenis
produk tertentu hanya dapat digunakan sampai batas waktu tertentu saja, ini
menuntut agar diselesaikan tepat waktu, karena akan berpengaruh atas
penggunaannya. Pada dimensi ini, karyawan dituntut untuk dapat menyelesaikan
pekerjaan tepat waktu.
4.
Kehadiran
Suatu jenis pekerjaan tertentu menuntut
kehadiran karyawan dalam mengerjakannya sesuai waktu yang ditentukan. Ada tipe
pekerjaan yang menuntut kehadiran karyawan selama delapan jam sehari untuk lima
hari kerja seminggu. Kinerja karyawan ditentukan oleh tingkat kehadiran
karyawan dalam mengerjakannya.
5.
Kemampuan Kerja Sama
Tidak semua pekerjaan dapat diselesaikan
oleh satu orang karyawan saja. Untuk jenis pekerjaan tertentu mungkin harus
diselesaikan oleh dua orang karyawan atau lebih, sehingga membutuhkan kerja
sama antar karyawan sangat dibutuhkan. Kinerja karyawan dapat dinilai dari
kemampuannya bekerjasama dengan rekan sekerja lainya.
Disamping
dimensi-dimensi umum yang sudah di jelaskan di atas, dimensi penting lainnya
yang termasuk dalam berbagai pekerjaan adalah kriteria pekerjaan (job criteria). Terdapat tiga jenis
kriteria dalam penilaian kinerja, antara lain:
1. Kriteria
berdasarkan sifat, berpusat pada karakteristik pribadi setiap karyawan. Jenis
kriteria ini terpusat pada bagaimana kepribadian setiap keryawan dalam
mengidentifikasi dan melaksanakan suatu jenis pekerjaan. Loyalitas,
pengetahuan, keterampilan, dan kemampuannya dalam melaksanakan pekerjaan dapat
dilihat dari hasil pekerjaannya. Instrumen-intrumen yang dibuat untuk menilai
kerja hanya berkaitan dengan karakteristik karyawan, bukan mengarah pda
pencapaian tujuan atas pekerjaannya. Sebaliknya, penilaian kinerja harus dikaitkan
dengan pekerjaan. Korelasi antara karakteristik karyawan dengan kinerja
pekerjaan seringkali lemah.
2. Kriteria
berdasarkan perilaku, ini mengarah pada bagaimana suatu pekerjaan dilaksanakan
dengan baik. Sebagai contoh, apakah para pelayan toko dapat menyenangkan para
pelanggannya. Oleh karena itu, perlu membuat daftar perilaku sebagai pedoman
yang harus dilaksanakan karyawan, dan perilaku-perilaku itu diukur oleh pembeli
misterius.
3.
Kriteria berdaarkan hasil, jenis kriteria
ini mengarah pada pencapaian hasil pekerjaan. Kinerja karyawan diukur
berdasarkan hasil pekerjaan mereka, di mana pekerjaan tersebut mudah diukur dan
jelas. Pengukuran dilakukan berdasarkan hasil yang dapat diterapkan. Mereka
hanya bertanggung jawab atas pekerjaan yang dilakukan, tidak bertanggung jawab
atas pekerjaan lain. Sebagai contoh, tenaga penjual mobil hanya bertanggung
jawab sebagai penjual mobil, tidak tersedia untuk mengerjakan pekerjaan lain.
Berbagai
cara dapat dilakukan menilai kerja karyawan dalam perusahaan, tergantung pada
kepentingannya. Penilaian kinerj karyawan dapat juga dilakukan dengan membandingkan
hasil kerja yang dicapai sekarang dengan hasil kerja sebelumnya. Cara lain,
sering dilakukan dengan membandingkan hasil pekerjaan seorang karyawan dengan
karyawan lain untuk jenis dan tingkat pekerjaan yang sama pada suatu perusahaan
tertentu, atau pada perusahaan berbeda dalam satu industri. Kebayakan
perusahaan menentukan standar pekerjaan berdasarkan persayaratan pekerjaan
kemudian membandingkannya dengan hasil pekerjaan yang dicapai setiap karyawan
dalam perusahaan.
E.
Proses
Penilaian Kinerja
Langkah-langkah
dalam proses penilaian kinerja:[4]
1.
Mengidentifikasikan tujuan spesifik
penilaian kinerja. Contoh: mempromosikan karyawan, mengidentifikasikan
kebutuhan pelatihan, mengdiagnosis masalah karyawan.
2.
Menetukan tugas yang harus dijalankan
dalam pekerjaan (analisis jabatan). Jika analisis jabatan sudah dilakukan, pada
tahap ini cukup dilakukan upaya untuk memutakhirkan atau melengkapi informasi
hasil analisis jabatan.
3.
Memeriksa tugas yang dijalankan. Tahap
ini, penilai memeriksa tugas yang dilaksanakan oleh setiap karyawan, dengan
berpedoman pada deskripsi jabatan.
4.
Menilai kinerja. Setelah memeriksa tugas,
penilai memberi nilai untuk setiap unsure jabatan yang diperiksa atau diamati.
5.
Membicarakan hasil penilaian dengan
karyawan. Tahap akhir ini, penilai hendaknya menyampaikan dan mendiskusikan
hasil penilaian kepada karyawan yang dinilai. Karyawan yang dinilai dapat
mengklarifikasikan hasil penilaian dan bila perlu, bisa mengajukan keberatan
atas hasil penilaian.
F.
Metode
Penilaian Kinerja
Dapat dikatakan bahwa
tidak ada metode yang sempurna dalam menilai kinerja, karena metode yang satu
lebih mengarah pada suatu aspek tertentu sedangkan metode yang lain pada faktor
lain. Setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan.
Terdapat
banyak bentuk metode penilaian dan pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi
dua yaitu; metode tradisional dan metode modern.
1.
Metode Tradisional
Metode
tradisional adalah metode yang paling sederhana dan tertua yang dapat
diterapkan baik secara sistematis maupun tidak sistematis, yang termasuk dalam
metode ini antara lain:
a. Rating Scale, suatu
penilaian yang dilakukan oleh atasan atau supervisor untuk mengukur
karakteristik, misalkan mengenai inisiatif, ketergantungan, kematangan, dan
kontribusinya terhadap tujuan kerjanya.
b.
Employee
Comparation, suatu metode penilaian yang dilakukan
dengan cara membandingkan seorang karyawan dengan karyawan lainnya. Metode ini
dapat dilakukan dengan tiga cara, pertama Alternation
Ranking yaitu dengan cara mengurut peringkat dimulai dari yang terendah
sampai yang tertinggi dan berdasarkan
kemampuan yang dimilikinya. Yang kedua adalah Paired Comparation, yaitu dengan cara membandingkan semua karyawan
dengan seluruh karyawan lainnya, sehingga terdapat berbagai alternative
keputusan yang akan diambil.metode ini dapat digunakan pada jumlah karyawan
yang sedikit. Selanjutnya adalah Paired
Comparation ( grading ) pada dasarnya metode ini sama dengan metode paired
comparation akan tetapi biasa digunakan untuk jumlah karyawan yang banyak. Pada
metode ini definisi yang jelas untuk setiap kategori telah dibuat secara
seksama. Kategori untuk prestasi karyawan misalkan adalah baik sekali,
memuaskan, dan kurang memuaskan yang masing-masing mempunyai definisi yang
jelas. Prestasi kerja dari setiap kerja karyawan kemudian dibandingkan dengan
definisi masing-masing kategori untuk dimasukkan kedalam salah satunya. Akan
tetapi terkadang metode ini diubah menjadi penilaian dengan distribusi yang
dipaksakan. Misalkan ditetapkan hasil penilaian bobot sebagai berikut 10% dari
karyawan harus masuk ke dalam kelompok yang tertinggi, 20% karyawan harus masuk
kelompok baik, 20% karyawan harus masuk ke dalam kelompok yang berprestasi
sedang, dan 10% termasuk kelompok prestasi kurang. Melihat dari hal tersebut,
maka metode ini mengharuskan seorang penilai untuk melakukan penilaian relative
diantara karyawannya tersebut disamping membandingkannya dengan definisi
masing-masing kategori.
c.
Check
List, dengan metode ini penilai sebenarnya tidak menilai
tetapi hanya memberikan masukan/informasi bagi penilaian yang dilakukan oleh
bagian personalia. Penilai tinggal memilih kalimat-kalimat atau kata-kata yang
menggambarkan prestasi kerja dan karakteristik setiap individu karyawan, baru
melaporkannya kepada bagian personalia untuk menetapkan bobot nilai, indeks
nilai dan kebijaksanaan selanjutnya bagi karyawan yang bersangkutan.
d.
Freedom
Essay, dalam metode ini penilai diharuskan membuat karangan
yang berkenaan dengan karyawan yang sedang diniainya.
e.
Critical
Incident, dalam metode ini penilai harus mencatat semua kejadian
mengenai tingkah laku bawahannya sehari-hari yang kemudian dimasukkan ke dalam
buku catatan khusus yang terdiri dari berbagai macam kategori tingkah laku
bawahannya, misalkan mengenai inisiatif, kerjasama dan keselamatan kerjanya.
2. Metode
Modern
Metode
modern adalah suatu metode penilaian karyawan yang merupakan pengembangan dari
metode tradisional sebelumnya. Yang termasuk ke dalam metode ini adalah Assessment
centre, management by objective (MBO/MBS), dan human asset accounting.
a. Assessment centre, dalam
metode ini biasanya dibentuk tim penilai khusus, yang dapat berasal dari luar,
dari dalam, maupun kombinasi dari luar dan dalam. Pembentukan tim harus lebih
baiksehingga penilai lebih objektif dan indeks prestasi yang diperoleh sesuai
dengan fakta dari setiap individu karyawan yang dinilai. Cara penilaian dapat
dilakukan dengan cara wawancara, permainan bisnis dan lain-lain. Nilai indeks
prestasi karyawan adalah rata-rata bobot dari tim penilai. Dengan metode ini
diharapkan memberikan kepuasan yang lebih baik bagi karyawan dan penetapan
kebijaksanaan yang paling tepat dari perusahaan.
b.
Management By Objective (MBO/MBS), dalam metode ini karyawan
secara langsung diikutsertakan dalam perumusan pemutusan persoalan dengan
memperhatikan kemampuan bawahan dalam menentukan sasaran masing-masing yang
ditekankan pada pencapaian sasaran perusahaan. Manajemen Berdasarkan Sasaran
menekankan pada apa yang telah dicapai, bukan bagaimana mencapainya dan apa
yangdapat dicapai lagi, MBS juga tidak dapat membedakan apakah target itu
dicapai melalui sumbangan ternilai atau bukan.
c. Hukum Asset Accounting, dalam
metode ini karyawan dinilai sebagai individu modal jangka panjang sehingga
sumber tenaga kerja dinilai dengan cara membandingkan terhadap
variabel-variaabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan perusahaan. Jika biaya
untuk tenaga kerja meningkat maka laba pun akan meningkat pula. Maka dengan ini
peningkatan tenaga kerja tersebut telah berhasil.
G.
Kesalahan-Kesalahan
Dalam Penilaian Kinerja
Ada
berbagai kemungkinan kesalahan atau distorsi yang dapat terjadi anatara:
1.
Efek Halo
Efek halo (halo effect) adalah
suatu kesalahan dilakukan manajer karena menggunakan hanya satu faktor mewakili
faktor lain dalam mengambil keputusan untuk menentukan kinerja seseorang.
Sebagai contoh, seorang karyawan memiliki kesetiaan yang tinggi, manajer
memberikan penilaian tinggi tanpa memerhatikan faktor lain. Suatu kemungkinan
terjadi, seorang karyawan baik dalam kesetiaan tetapi belum tentu baik pada
faktor lain, seperti kuantitas dan kualitas hasil pekerjaannya. Memang, jarang
sekali seorang karyawan baik atau buruk dalam semua fakor tertentu perlu
pertimbangan atas faktor lain sebelum memutuskan dalam penilaian kinerja.
2. Kecenderungan
Penilaian Terpusat
Ada penilaian yang enggan memberi nilai
kinerja bawahannya baik atau buruk, sehingga memberikan penilaian rata-rata,
walaupun kinerjanya bervariasi. Kesalahan seperti ini mungkin terjadi karena penilai
kurang informasi, tersedia waktu yang sedikit dalam menilai, kurang pengetahuan
yang memadai mengenai faktor lain.
3. Bias
Terlalu Lunak dan Keras
Ada sebagian penilai memberikan penilaian
sangat baik atau sangat buruk saja. Karena ada penilai bersifat murah hati, dan
keras hati. Penilaian terlalu lunak adalah pemberian nilai yang sangat baik
atas kinerja karyawan. Penilaian sangat baik terjadi karena menghindari
konflik, seorang manajer memberikan penilaian kepada para bawahan lebih tinggi
daripada nilai yang semestinya diperoleh. Pada sisi lain, ada penilai yang
keras hati, enggan memberikan penilaian sangat baik. Penilaian seperti ini
tergolong pada bias terlalu keras. Penilaian yang masih muda dan belum
berpengalaman sering melakukan kesalahan seperti ini.
4. Pengaruh
Kesan Terakhir
Perlakuan yang terjadi terdahulu bukan
merupakan pertimbangan dalam pemberian nilai. Hal ini terjadi karena kejadian
yang terakhir memberikan kesan atau mudah diingat oleh penilai. Sebagai contoh,
seorang karyawan yang berperilaku baik selama ini, tetapi buruk pada saat
terakhir, penilaian kinerja adalah yang terjadi pada saat terakhir. Demikian
sebaliknya, perilaku buruk pada awal periode dan baik pada akhir periode, maka
kinerja karyawan yang dinilai adalah baik.
5. Perasangka
Pribadi
Ada suatu faktor tertentu yang membuat
penilai yang tidak benar dilakukan oleh penilai. Suatu faktor tertentu sebagai
dasar yang dilakukan penilai untuk menentukan kinerja karyawan baik atau buruk.
Termasuk pada faktor-faktor tersebut antara lain: jender, ras, agama, dan
kebangsaan. Sebagai contoh, seorang penilai pria memberikan penilaian baik
kepada karyawan wanita karena senang kepada wanita tersebut. Seorang penilai
berprasangka bahwa seorang karyawan suku tertentu malas bekerja sehingga memberikan
penilaian yang kurang baik, padahal tidak semua suku tertentu tersebut malas.
Demikian dapat terjadi pada faktor-faktor lain yang dipersangkakan tidak benar
sehingga dapat merugikan pada pihak karyawan.
6. Kesalahan
Kontras
Adalah penilaian menggunakan penilaian
kepada perbandingan kinerja seorang karyawan ke atas karyawan lainnya, bukannya
berdasarkan standar kinerja. Kesalahan ini terjadi karena berpatokan kepada
kinerja karyawan yang pertama sekali dinilai oleh penilai. Bila penilaian
pertama sekali dilakukan kepada karyawan yang memiliki kinerja sangat baik,
maka penilaian berikutnya kepada karyawan yang berkinerja rata-rata dimasukkan
pada kategori kinerja rendah. Demikian sebaliknya, bila penilaian dilakukan
pertama sekali kepada karyawan yang memiliki kinerja rendah, maka penilaian
berikutnya dilakukan kepada karyawan berkinerja rata-rata sudah digolongkan
pada kinerja baik.
7. Kesalahan
Serupa dengan Saya
Kesalahan juga dapat terjadi karena
penilai terpengaruh atas sifat-sifat yang serupa atau mirip dengan dirinya.
Tentu, menguntungkan bagi karyawan yang memiliki sifat yang sama dengan
penilai. Suatu penilaian yang kurang objektif, karena seseorang karyawan yang
dinilai baik karena ada unsur kemiripan dengan sifatnya, tetapi akan berbeda
penilaian oleh penilai yang memiliki sifat yang berbeda dengan adanya.
H.
Cara
Mengatasi Kesalaha Penilaian
Berbagai
kesalahan yang mungkin terjadi dilakukan oleh penilai dapat diatasi dengan
berbagai cara: pertama, penilai memastikan dengan benar bentuk kesalahan yang dilakukan
dalam penilaian. Kedua, memahami secara jelas metode-meode penilaian kinerja.
Penilai harus mengetahui secara jelas kelebihan-kelebihan dan
kelemahan-kelemahan setiap metode penilaian. Ketiga, perlu diberikan umpan
balik kepada penilai atas hasil-hasil penilaiannya dimasa laul. Dengan
demikian, penilai mengetahui bentuk-bentuk kesalahan yang pernah dilakukan di
masa lalu dan merupakan dasar perbaikan di masa akan datang.
Disamping
ketiga cara yang dilakukan di atas, cara lain yang sangat penting dan perlu
dilakukan untuk mengatasi kesalahan-kesalahan penilaian adalah memberikan
pelatihan kepada penilai. Pelatihan diberikan kepada para penilai mencakup
beberapa tahap. Pertama, penilai diberi deskripsi pekerjaan dan diinstruksikan
mengidentifikasi kriteria yang tepat untuk mengevaluasi pekerjaan. Penilai
diberi latihan untuk dapat mengidentifikasi pekerjaan agar dapat menentukan
ukuran-ukuran pekerjaan sehingga memudahkan untuk melakukan penilaian dan
hasilnya objektif. Kedua, penilai melihat informasi pekerjaan yang sudah
dilakukan oleh karyawan. informasi dapat berupa keterangan serta tertulis
maupun melalui audio visual. Penilai diberi latihan teknik dan analisis data
yang diperoleh dari karyawan. Ketiga, penilai diberi latihan untuk menyampaikan
hasil atau kinerja dan memberi rekomendasi kepada karyawan yang dinilai.
G.
Penggunaan
Hasil Penilaian Kinerja ( Mutasi, Promosi, dan Demosi )
Hasil dari prestasi kerja
karyawan biasanya digunakan untuk mengambil kebijaksanaan yang berkenaan dengan
mutasi, promosi dan demosi dalam sebuah organisasi yang diharapkan memberikan
uraian pekerjaan, sifat pekerjaan dan lingkungan pekerjaan, dan alat-alat kerja
yang cocok bagi karyawan yang bersangkutan sehingga dapat bekerja secara
efisien dan efektif pada jabatan itu.
1. Mutasi
Malayu
SP mendefinisikan mutasi sebagai suatu perubahan
posisi/jabatan/tempet/pekerjaan yang dilakukan baik secara horizontal maupun
vertikal (promosi dan demosi) di dalam satu organisasi yang pada dasarnya
merupaka salah satu fungsi pengembangan karyawan, karena tujuannya adalah
meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja dalam perusahaan tersebut.
Prinsisp yang harus diperhatikan dalam mutasi ini adalah harus menempatkan
karyawan yang tepat pada posisi yang tepat ( the right man on the right place )
agar semangat kerja dan produktivitasnya meningkat.
Ada
3 dasar yang menjadi landasan dari mutasi ini yaitu:
a.
Merit
System/career system ; adalah mutasi karyawan yang didasarkan
atas landasan yang bersifat ilmiah, objektif dan hasil prestasi kerjanya.
Sistem ini merupakan sistem yang paling baik karena dengan kejelasan karir
seorang karyawan akan merasa nyaman dan termotivasi dalam bekerja.
b. Seniority System ; adalah
mutasi yang didasarkan atas landasan masa kerja, usia dan pengalaman kerja dari
karyawan yang bersangkutan. Sistem mutasi yang seperti ini kurang objektif
karena belum tentu kecakapan karyawan yang senior dalam arti lamanya masa kerja
akan mampu dan berhasil dalam jabatan barunya.
c. Spoil System ; adalah
mutasi yang didasarkan atas landasan kekeluargaan, sistem seperti ini kurang
baik karena karyawan dinilai hanya berdasarkan pertimbanagan suka atau tidak
suka (like or dislike).
Sedangkan sebab-sebab pelaksanaan
mutasi menurut Siswandi (1999) digolongkan sebagai berikut :
a. Permintaan
sendiri
Mutasi atas
permintaan sendiri adalah mutasi yang dilakukan atasa keinginan sendiri dari
karywan yang bersangkutan dan dengan mendapat persetujuan pimpinan organisasi.
Mutasi pemintaan sendiri pada umumnya hanya pemindahan jabatan yang
peringkatnya sama baik, antar bagian maupun pindah ke tempat lain.
b.
Alih tugas produktif (ATP)
Alih tugas
produktif adalah mutasi karena kehendak pimpinanan perusahaan untuk
meningkatkan produksi dengan menempatkan karywan yang bersangkutan ke jabatan
atau pekerjannya yang sesuai dengan kecakapannya.
Tujuan
mutasi menurut Mudjiono (2000) adalah sebagai berikut:
a. Untuk
meningkatkan poduktivitas kayawan.
b.
Untuk menciptakan keseimbangan anatar tenaga kerja
dengan komposisi pekejaan atau jabatan.
c.
Untuk memperluas atau menambah pengetahuan karyawan.
d.
Untuk menghilangkan rasa bosan/jenuh tehadap
pekerjaannya.
e.
Untuk memberikan perangsang agar karyawan mau berupaya
meningkatkan karir yang lebih tinggi.
f.
Untuk alat pendorong agar spirit kerja meningkat
melalui pesaingan terbuka.
g. Untuk
menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi fisik karyawan.
Mutasi
yang merupakan penempatan kembali ke posisi tempat yang baru sehingga kemampuan
dan kecakapan kerjanya semakin baik mencakup mutasi secara horizontal dan
vertikal.
Mutasi horizontal artinya perubahan tempat
atau jabatan karyawan tetapi masih dalam garis level yang sama dalam
organisasi. Sedangkan mutasi vertikal adalah perubahan posisi jabatan atau
pekerjaan bisa berupa promosi (kenaikan pangkat) dengan kewenangan dan tanggung
jawab lebih besar atau demosi (penurunan pangkat) dengan pengurangan wewenang
dan tanggung jawab.
2. Promosi
Promosi
adalah mutasi yang memperbesar kewenangan dan tanggung jawab karyawan ke
jabatan lain yang lebih tinggi di dalam satu organisasi sehingga kewajiban,
status, dan juga biasanya disertai dengan kenaikan gaji/upah walaupun tidak
selalu demikian. Tujuan-tujuan yang hendak dicapai dari program promosi ini
antara lain:
a. Untuk
memberikan pengakuan, jabatan dan imbalan jasa yang semakin besar kepada
karyawan yang berprestasi tinggi.
b. Dapat
menimbulkan kepuasan dan kebanggan pribadi, status sosial yang semakin tinggi
dan penghasilan yang semakin besar.
c. Untuk
merangsang agar karyawan lebih bergairah dalam bekerja, berdisiplin tinggi dan
memperbesar produktivitas kerjanya.
d. Untuk
menjamin stabilitas kepegawaian dengan direlisasikannya promosi kepada karyawan
dengan dasar dan pada waktu yang tepat serta penilaian yang jujur.
e. Kesempatan
promosi dapat menimbulkan keuntungan berantai dalam perusahaan karena timbulnya
lowongan berantai.
f. Memberikan
kesempatan kepada karyawan untuk mengembangkan kreatifitas dan inovasinya yang
lebih baik demi optimalisasi keuntungan organisasi.
g. Untuk
menambah dan memperluas pengetahuan dan pengalaman kerja para karyawan dan ini
merupakan daya dorong bagi karyawan lainnya.
h. Untuk
mengisi kekosongan jabatan karena pejabatnya berhenti. Agar jabatan itu tidak
lowong maka dipromosikan kepada karyawan lainnya.
i.
Promosi akan memperbaiki status karyawan
dari karyawan sementara menjadi karyawan tetap setelah lulus dalam masa
percobaannya.
Untuk mendapatkan promosi pegawai harus
memenuhi persyaratan tertentu, antara lain:
a. Ada
lowongan jabatan
b. Menduduki
tempat yang paling tinngi dalam daftar urut jabatan
c. Memenuhi
syarat masa kerja minimum
d. Cakap
praktis
e. Lulus
ujian jabatan, apabila disyaratkan
3. Demosi
Demosi
adalah suatu perpindahan karyawan dalam suatu organisasi dari satu posisi ke
posisi lain yang lebih rendah baik posisi, jabatan maupun kewenangannya dan
melibatkan pula penurunan status, maupun gajinya. Tujuan dilakukannya demosi
adalah untuk melindungi organisasi dari penempatan karyawan yang tidak sesuai
dengan tempat dan tanggung jawabnya dan biasanya merupakan sebuah hukuman
terhadap karyawan yang tidak mampu mengerjakan tugas-tugas pada jabatan yang
dipangkunya hingga jabatannya diturunkan.
Penurunan lebih mungkin terjadi jika pasar
tenaga kerja menunjukkan keadaan suplay melebihi demand. Keadaan perusahaan
dapat pula mengharuskan diadakan demosi, misalnya apabilla perusahaan mengalami
krisis, sebagian pegawai diberhentikan dan sebagian lagi diberi jabatan yang
lebih rendah. Dalam keadaan krisis maka perusahaan tetap mempertahankan pegawai
senior, dengan kata lain diterapkan prinsip “first in first out” walaupun
dengan melakukan penurunan.
Tujuan lain dilakukan demosi terhadap
seorang karyawan adalah untuk pembianaan dan pembelajaran bagi karyawan
tersebut. Apabila manajemen menganggap masih adanya harapan bagi karyawan
tersebut untuk memperbaiki diri
maka tindakan demosi dilakukan sebagai
sanksi yang mendidik karyawan tersebut kearah yang lebih baik.
Disamping tujuan pembelajaran, penjatuhan
sanksi demosi juga dimaksudkan untuk menghindari kerugian perusahaan yang lebih
besar karena telah salah menempatkan karyawan diposisinya (wrong man on the wrong place).
Indikator yang dilakukan manajemen
perusahaan terhadap karyawan dalam pelaksanaan penjatuhan sanksi demosi adalah
menurut (Carrel, 1995:459):
1) Ketidakmampuan
karyawan dalam mengemban tugas dan tanggung jawab yang diberikan perusahaan
sehingga menghasilkan prestasi kerja yang rendah.
2) Rasionalisasi
jumlah karyawan karena adanaya program efekltifitas dan efisiensi dalam
manajemen perusahaan.
3) Karena
adanya permintaan secara pribadi dari karyawan yang bersangkutan.
BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Penilaian kinerja adalah proses yang
dilakukan organisasi untuk mengevaluasi atau menilai keberhasilan karyawan
dalam melaksanakan tugasnya. Tujuan penilaian kinerja adalah meningkatkan
kinerja karyawan dengan cara membentuk mereka agar menyadari dan menggunakan
seluruh potensi mereka dalam mewujudkan tujuan organisasi. Serta memberikan
informasi kepada karyawan dan pimpinan sebagai dasar untuk mengambil keputusan
yang berkaitan dengan pekerjaan.
2.
Ruang lingkup penilaian kinerja mencakup
dalam 5W + 1H . What (Apa yang dinilai?),
Why (Kenapa dinilai?), Where (Dimana penilaian dilakukan?), When (Kapan
penilaian dilakukan?), Who (Siapa yang akan dinilai?), dan How (Bagaimana
menilainya?).
3. Hasil
dari prestasi kerja karyawan biasanya digunakan untuk mengambil kebijaksanaan
yang berkenaan dengan mutasi, promosi dan demosi dalam sebuah organisasi.
Mutasi adalah suatu perubahan posisi/jabatan/tempet/pekerjaan yang dilakukan
baik secara horizontal maupun vertikal (promosi dan demosi) di dalam satu
organisasi. Promosi adalah mutasi yang memperbesar kewenangan dan tanggung
jawab karyawan ke jabatan lain yang lebih tinggi di dalam satu organisasi
sehingga kewajiban, status, dan juga biasanya disertai dengan kenaikan
gaji/upah. Dan demosi adalah suatu perpindahan karyawan dalam suatu organisasi
dari satu posisi ke posisi lain yang lebih rendah baik posisi, jabatan maupun
kewenangannya dan melibatkan pula penurunan status, maupun gajinya.
DAFTAR PUSTAKA
Mondy, R. Wayne. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jil. 1
Edisi 10. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2008.
Sedarmayanti. Manajemen Sumber Daya Manusia: Reformasi
Birokrasi dan Manajemen Pegawai Negeri Sipil. Cet. 5. Bandung: PT Refika
Aditama. 2011.
Bangun, Wilson. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Penerbit Erlangga. 2012.
Suhendra, dan Murdiyah
Hayati. Manajemen Sumber Daya Manusia.
Jakarta: UIN Jakarta Press. 2006.
[1] R. Wayne Mondy, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jil. 1
Edisi 10, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2008), hal. 256
[2] Wilson Bangun, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta:
Penerbit Erlangga, 2012), hal. 232
[3] Sedarmayanti, Manajemen Sumber Daya Manusia: Reformasi Birokrasi dan Manajemen
Pegawai Negeri Sipil, Cet. 5,
(Bandung: PT Refika Aditama, 2011), hal. 262
[4] Sedarmayanti, Manajemen Sumber Daya Manusia: Reformasi Birokrasi dan Manajemen
Pegawai Negeri Sipil, Cet. 5,
(Bandung: PT Refika Aditama, 2011), hal. 275
Tidak ada komentar:
Posting Komentar