Senin, 29 Desember 2014

Motivasi dan Kompensasi Kerja



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
          Motivasi kerja sangat penting bagi dunia usaha, karena dengan motivasi kerja yang tinggi maka produktivitas tinggi dapat dicapai. Dengan motivasi yang kuat, daya dorongnyapun kuat juga untuk meningkatkan kualitas kerjanya. Motivasi dapat diciptakan atau ditingkatkan dengan kemampuan manajemen dalam memenuhi kebutuhan pegawai, memberikan perhatian terhadap bawahannya dan mengauggap pegawai sebagai insan yang tidak semata-mata sebagai karyawan. Berdasarkan pada kemampuan karyawan akan dapat ditentukan bentuk dan besarnya kompensasi yang dibayarkan kepada karyawan. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang penggolongan kompensasi, tantangan-tantangan dalam kebijakan kompensasi, keadilan dalam kompensasi, evaluasi pekerjaan dan penetapan harga pekerjaan. Dan akan dibahas juga tentang penghargaan insentif, berbagai tunjangan dan kompensasi non-finansial. Penghargaan insentif diberikan kepada karyawan operasional, administrasi, manajerial dan tenaga penjual. Tunjangan dibayarkan dalam bentuk pembayaran untuk waktu tidak bekerja, perlindungan terhadap bahaya dan pelayanan karyawan. Kemudian berbagai kompensasi non-finansial diberikan untuk memperbaiki komitmen karyawan atas organisasi.
B. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan motivasi?
2.      Apa saja pendekatan dan teori dalam motivasi?
3.      Apa yang dimaksud dengan kompensasi?
4.      Apa tujuan dari kompensasi?
5.      Apa saja bentuk-bentuk dari kompensasi?
C. Tujuan
Tujuan penulis dalam menyusun makalah ini yaitu:
1.      Memahami dan menguasai apa yang dimaksud dengan motivasi itu.
2.      Menguasai pendekatan dan teori motivasi.
3.      Memahami dan menguasai apa yang dimaksud dengan kompensasi itu.
4.      Memahami tujuan dari kkompensasi.
5.      Menguasai bentuk-bantuk dari kompensasi.



















BAB II
PEMBAHASAN
A.  Motivasi
1.     Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata motif yang berarti dorongan. Dengan demikian motivasi berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan suatu perbuatan/kegiatan yang berlangsung secara sadar. Motivasi merupakan tugas manajer untuk memengaruhi orang lain dalam suatu perusahaan.
a.       Menurut beberapa ahli, motivasi adalah:
1)      George R. Terry mengemukakakan bahwa motivasi keinginan  yang terdapat pada seorang individu yang merangsaangnya melakukan tindakan
2)      Menurut Porter&Lawler Proses dengan mana perilaku dibangkitkan, diarahkan dan dipertahankan selama berjalannya waktu
3)      Menurut Richard M. steers motivasi ialah kekuatan kecenderungan seorang individu melibatkan diri dalam kegiatan yang berarahkan sasaran dalam pekerjaan
4)      Abraham Sperling mengemukakan bahwa motif didefininisikan sebagai suatu kecenderungan untuk beraktivitas, dimulai dari dorongan dalam diri dan diakhiri dengan penyesuaian diri.Penyesuaian diri dikatakan untuk memuaskan motif.
5)       J. Stanton mendefinisikan bahwa suatu motif adalah kebutuhan yang distimulasiyang berorientasi kepada tujuan individu dalam mencapai rasa puas.
6)      Motivasi didefiinisikan oleh Fillmore H. Stanford bahwa motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakan manusia kearah suatu tujuan tertentu.[1]

2.      Pendekatan-pendekatan Motivasi
a.       Pendekatan Tradisional
Dalam model ini titik beratnya adalah pengawasan dan pengarahan. Pada pendekatan ini, manajer menentukan cara yang paling efisien untuk pekerjaan berulang dan memotivasi karyawan dengan sistem insentif upah, semakin banyak yang dihasilkan maka semakin besar upah yang diterima.
b.      Pendekatan Hubungan Manusia
Pendekatan ini manajer dapat memotivasi karyawan dengan memberikan kebutuhan sosial serta dengan membuat mereka merasa berguna dan lebih penting.
c.       Pendekatan Sumber Daya Manusia
Pendekatan sumber daya manusia menyatakan bahwa para karyawan dimotivasi oleh banyak faktor, tidak hanya atau keinginan untuk mencapai kepuasan tetapi juga kebutuhan untuk berprestasi dan memperoleh pekerjaan yang berarti.
d.      Pendekatan Kontemporer
Didominasi oleh tiga tipe motivasi: teori isi, teori proses, dan teori penguatan. Dalam teori ini terdapat tiga teori motivasi yang menekankan pada analisa yang mendasari kebutuhan-kebutuhan manusia antara lain teori hierarki kebutuhan, teori ERG dan teori dua faktor.[2]

3.      Teori Motivasi
a.       Teori Kebutuhan
Kebutuhan didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara suatu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Apabila pegawai kebutuhannya tidak terpenuhi maka pegawai tersebut akan menunjukkan perilaku kecewa. Sebaliknya, jika kebutuhannya terpenuhi maka pegawai tersebut akan memperlihatkan perilaku yang gembira sebagai manifestasi dari rasa puasnya.
Kebutuhan merupakan  fundamen yang mendasari perilaku pegawai. Kita tidak mungkin memahami perilaku pegawai tanpa mengerti kebutuhannya.
Abraham Maslow mengemukakan bahwa hierarki kebutuhan manusia adalah sebagai berikut:
1)   Fisiologis, antara lain: rasa lapar, haus, perlindungan (pakaian dan perumahan), seks dan kebutuhan lain.
2)   Keamanan, antara lain: keselamatan dan perlindungan terhadap kerugian fisik dan emosional.
3)   Sosial, mencakup: kasih sayang, rasa dimiliki, diterima baik dan persahabatan.
4)   Penghargaan, mencakup faktor rasa hormat internal seperti harga diri, otonomi dan prestasi dan faktor hormat, ekseternal seperti: status, pengakuan dan perhatian.
5)   Aktualisasi diri yaitu dorongan untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi, mencakup: pertumbuhan, mencapai potensialnya dan pemenuhan diri.

Dalam studi motivasi lainnya, David Mc Clelland mengemukakan adanya 3 macam kebutuhan manusia yaitu berikut ini:
1)      Need for Achievement, yaitu kebutuhan untuk berprestasi yang merupakan refleksi dari dorongan akan tanggung jawab untuk pemecahan masalah. Seorang pegawai yang mempunyai kebutuhan akan berprestasi tinggi cenderung untuk berani mengambil resiko. Kebutuhan untuk berprestasi adalah kebutuhan untuk melakukan pekerjaan lebih baik daripada sebelumnya, selalu berkeinginan mencapai prestasi yang lebih tinggi.
2)      Need for Affiliatiation, yaitu kebutuhan untuk berafiliasi yang merupakan dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain, berada bersama orang lain, tidak mau melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.
3)      Need for Power, yaitu kebutuhan untuk kekuasaan yang merupalan refleksi dari dorongan untuk mencapai otoritas untuk memiliki pengaruh terhadap orang lain.
b.   Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth) dari Alderfer
Teori ERG merupakan refleksi dari nama tiga dasar kebutuhan, yaitu:
1)      Existence needs. Kebutuhan ini berhubungan dengan fisik dari eksistensi pegawai, seperti makan, minum, pakaian, bernapas, gaji, keamanan kondisi kerja, fringe benefits
2)      Relatedness nedds. Kebutuhan interpersonal, yaitu kepuasan dalam berinteraksi dalam lingkungan kerja.
3)      Growth needs. Kebutuhan untuk mengembangkan dan meningkatkan pribadi. Hal ini berhubungan dengan kemampuan dan kecakapan pegawai.
Daftar kebutuhan dari Alderfer tidak selengkap kebutuhan menurut Abraham Maslow. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut:
1)      Teori ERG kurang menekankan pada susunan hierarki. Pegawai dapat memuaskan lebi dari satu kebutuhan dalam waktu yang bersamaan.
2)      Perubahan orientasi merupakan kegagalan dari kebutuhan yang lebih tinggi dapat menunjukan regresi dengan penambahan pada tingkat kebutuhan yang lebih rendah.
c.       Teori Insting
Teori motivasi insting timbulnya berdasarkan teori evauasi Charles Darwin. Darwin berpendapat bahwa tindakan yang intelligent merupakan reflex dan instingtif yang diwariskan. Oleh karena itu, tidak semua tingkah laku dapat direncanakan sebelumnya dan dikontrol oleh pemikiran.


d.      Teori Drive
Teori drive menjadi konsep yang tersohor dalam bidang motivasi sampai tahun 1819. Woodworth menggunakan konsep tersebut sebagai energi yang mendorong organisasi untuk melakukan suatu tindakan. Kata drivedijelaskan sebagai aspek motivasi dari tubuh yang tidak seimbang.
Misalnya kekurangan makanan mengakibatkan berjuang untuk memuaskan kebutuhannya agar kembali menjadi seimbang.Motivasi didefinisikan sebagai suatu dorongan yang membangkitkan untuk keluar dari ketidakseimbangan atau tekanan.
e.       Teori Lapangan
Teori Lapangan merupakan konsep dari Kurt Lewin.Teori ini merupakan pendekatan kognitif untuk mempelajari perilaku dan motivasi.Teori Lapangan lebih memutuskan pada pikiran nyata seorang pegawai ketimbang pada insting atau habit.Kurt Lewin berpendapat bahwa perilaku merupakan suatu fungsi dari lapangan pada momen waktu.Kurt Lewin juga percaya pada pendapat para ahli psikologi Gestalt yang mengemukakan bahwa perilaku itu merupakan fungsi dari seorang pegawai dengan lingkunagnnya.[3]
f.       Teori Dua Faktor 
Berdasarkan hasil penelitiannya, Hezberg membagi dua faktor yang memengaruhi kerja sesorang dalam organisasi antara lain faktor kepuasan dan ketidakpuasan. Faktor kepuasan biasa juga disebut motivator factor atau pemuas. Termasuk pada faktor ini ialah faktor-faktor pendorong bagi prestasi dan semangat kerja. Sedangkan faktor ketidakpuasan biasa juga disebut sebagai hygiene factor atau faktor pemeliharaan merupakan faktor yang bersumber dari ketidak puasan kerja. Faktor-faktor tersebut ialah kebijakan dan administrasi perusahaan, pengawasan, penggajian, hubungan kerja, kondisi kerja, keamanan kerja dan status pekerjaan.
g.      Teori X dan Y
Menurut teori X ada empat asumsi yang dipegang manajer adalah sebagai berikut:
1.   Karyawan secara inheren tidak menyukai dan bilamana dimungkikan akan mencoba menghindarinya
2.   Karena karyawan tidak menyukai kerja, mereka harus dipaksa, diawasi atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan
3.   Karyawan akan menghindari tanggung jawab dan mencari pengarahan formal bilamana dimungkinkan
4.   Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semua faktor lain yang dikaitkan dengan kerja dan akan menunjukkan sedikit saja ambisi.
Mc Gregor menjadikan empat pandangan positif yang disebut teori Y
1.   Karyawan dapat memandang kerja sebagai kegiatan alami yang sama dengan istirahat atau bermain
2.   Orang-orang akan melakukan pengarahan dan pengawasan diri jika mereka komit pada sasaran
3.   Kebanyakan orang dapat belajar untuk menerima
Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif menyebar luas ke semua orang dan tidak hanya milik mereka yang berada dalam posisi manajemen.[4]

4.     Prinsip-Prinsip dalam Motivasi Kerja Pegawai
Terdapat beberapa prinsip dalam memotivasi kerja pegawai.
a.    Prinsip Partisipasi
Dalam upaya memotivasi kerja, pegawai perlu diberikan kesempatan ikut berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh pemimpin
b.   Prinsip Komunikasi
Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha pencapaian tugas, dengan informasi yang jelas, pegawai akan lebih mudah dimotivasi kerjanya
c.    Prinsip mengakui andil bawahan
Pemimpin mengakui bahwa bawahan (pegawai) mempunyai andil di dalam usaha pencapaian tujuan. Dengan pengakuan tersebut, pegawai akan lebih mudah dimotivasi kerjanya.
d.   Prinsip Pendelegasian Wewenang
Pemimpin yang memberikan otoritas atau wewenang kepada pegawai bawahannya  untuk sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan terhadap pekerjaan yang dilakukannya, akan membuat pegawai yang bersangkutan menjadi termotivasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan pemimpin.
e.    Prinsip memberi perhatian
Pemimpin memberikan perhatian terhadap apa yang diinginkan pegawai bawahan, akan memotivasi pegawai bekerja apa yang diharapkan oleh pemimpin

5.     Teknik Motivasi Kerja Pegawai
Beberapa teknik memotivasi kerja pegawai, antara lain sebagai berikut.
a.       Teknik Pemenuhan Kebutuhan Pegawai
Pemenhan kebutuhan pegawai merupakan fundamen yang mendasari perilaku kerja. Kita tidak mungkin dapat memotivasi kerja pegawai tanpa memperhatikan apa yang dibutuhkannya. Abraham Maslow telah mengemukakan hirarki kebutuhan pegawai sebagai berikut:
1)      Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan makan, minum, perlindungan fisik, bernapas, dan sexual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang paling mendasar. Dalam hubungan dengan kebutuhan ini, pemimpin perlu memberikan gaji yang layak kepada pegawai.
2)      Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan perlindungan dari ancaman, bahaya, dan lingkungan kerja. Dalam hubungan dalam kebutuhan ini, pemimpin perlu memberikan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, perumahan, dan dana pension.
3)      Kebutuhan sosial atau rasa memiliki, yaitu kebutuhan untuk diterima dalam kelompok unit kerja, berafiliasi, berinteraksi, serta rasa dicintai dan mencintai. Dalam hubungan dengan kebutuhan ini, pemimpin perlu menerima eksistensi atau keberadaan pegawai sebagai anggota kelompok kerja, melakukan interaksi kerja yang baik, dan hubungan kerja yang harmonis.
4)      Kebutuhan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihormati, dihargai oleh orang lain. Dalam hubungan dengan kebutuhan ini, pemimpin tidak boleh sewenang-wenang memperlakukan pegawai karena mereka perlu dihormati, diberi penghargaan terhadap prestasi kerjanya.
5)      Kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebuuhan untuk mengembangkan diri dan potensi, mengemukakan ide-ide, memberikan penilaian, kritik, berpretasi. Dalam hubungannya dalam hubungan ini, pemimpin perlu untuk memberikan kesempatan kepada pegawai bawahan agar mereka dapat mengaktualisasikan diri secara baik dan wajar di perusahaan.
Dengan demikian, jika kebutuhan pegawai tidak terpenuhi, pemimpin akan mengalami kesulitan dalam memotivasi kerja pegawai.
b.      Teknik Komunikasi Persuasif
   Teknik komunikasi persuasif merupakan salah satu teknik memotivasi kerja pegawai yang dilakukan dengan cara mempengaruhi pegawai secara ekstralogis. Teknik ini dirumuskan: ”AIDDAS”.
A         = Attention (Perhatian)
I           = Interest (Minat)
D         = Desire (Hasrat)
D         = Decision (Keputusan)
A         = Action (Aksi/Tndakan)
S          = Satisfaction (Kepuasan)
Penggunannya, pertama kali pemimpin harus memberikan perhatian kepada pegawai tentang pentingnya tujuan dari suatu pekerjaan agar timbul minat pegawai terhadap pelaksanaan kerja, jika telah timbul minatnya, maka hasratnya menjadi kuat untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan kerja dalam mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimpin. Dengan demikian, pegawai akan bekerja dengan motivasi tinggi dan merasa puas terhadap hasil kerjanya.[5]

B.   Kompensasi
1.     Pengertian Kompensasi
Kompensasi merupakan salah satu faktor penting dan menjadi perhatian pada banyak organisasi dalam mempertahankan dan menarik sumber daya manusia yang berkualitas. Berbagai organisasi berkompetisi untuk memperoleh sumber daya manusia berkualitas, karena kualitas hasil pekerjaan ditentukan oleh kompetensi yang dimiliki sumber daya manusianya.    
Disisi lain menjadi pertimbangan bagi setiap organisasi dalam menentukan kompensasi karena gaji dan upah serta bentuk kompensasi lain merupakan komponen biaya usaha. Besarnya bagian  ini dapat membuat rendahnya daya saing  produk yang dihasilkan akibat tingginya biaya produksi dan biaya penjualan. Oleh karena itu organisasi harus menyeimbangkan biaya kompensasi pada suatu tingkat tertentu untuk menjamin daya saing organisasional dan  memberikan penghargaan yang adil kepada para karyawan atas pengetahuan, keterampilan dan kinerjanya.

Andrew E. Sikula (1981:283) mengemukakan bahwa  proses administrasi upah atau gaji (kadang-kadang disebut kompensasi) melibatkan pertimbangan atau keseimbangan perhitungan. Kompensasi merupakan sesuatu yang dipertimbangkan sebagai sesuatu yang sebanding. Dalam  kepegawaian, hadiah yang bersifat uang merupakan kompensasi yang diberikan kepada pegawai sebagai penghargaan dari pelayanan mereka. Bentuk-bentuk pemberian upah, bentuk upah, dan gaji digunakan untuk mengatur pemberian keuangan antara majikan dan pegawainya.
Pemberian upah  merupakan imbalan, pembayaran untuk pelayanan yang telah diberikan oleh pegawai.Sangat banyak bentuk-bentuk pembayaran upah, baik yang berupa uang maupun yang bukan merupakan uang (nonfinancial). Pembayaran upah biasanya dalam bentuk konsep pembayaran yang berarti luas daripada merupakan ide-ide gaji dan upah yang secara normal berupa keuangan tetapi tidak suatu dimensi yang nonfinancial.[6]
2.     Tujuan Kompensasi
Tujuan sistem kompensasi adalah:
a.       Menghargai kinerja
b.      Menjamin keadilan
c.       Mempertahankan karyawan
d.      Memperoleh karyawan bermutu
e.       Mengendalikan biaya
f.       Memenuhi peraturan
 Secara umum tujuan pengelolaan kompensasi adalah membantu organisasi mencapai keberhasilan strategis dan menjamin hak internal dan eksternal secara adil.

1.      Keadilan internal
Menjamin bahwa posisi yang lebih banyak persyaratannya atau orang yang lebih mampu di dalam organisasi diberi kompensasi lebih tinggi.
2.      Keadilan eksternal
Menjamin bahwa pekerjaan di beri imbalan yang wajar, sebanding dengan pekerjaan serupa di pasar kerja.
Tujuan pengelolaan kompensasi:
a.       Mendapatkan karyawan yang mampu/cakap
b.      Menggaji karyawan yang ada sekarang
c.       Menjamin hak yang adil
d.      Mengendalikan biaya
e.        Patuh pada peraturan yang berlaku[7]

3.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Kompensasi.
Ada enam faktor yang mempengaruhi kebijakan kompensasi, yaitu factor pemerintah, penawaran bersama, standard dan biaya kehidupan, upah perbandingan, permintaan dan persediaan, dan kemampuan membayar. Hal ini sesuai dengan pendapat Leon C. Mrgginson (1981:401) yang mengemukakan bahwa: “The major factors that affect an organization’s compensation policies and practices are: 1) Government factors, 2) Collective bargaining, 3) Standard and cost of lifing, 4) Comparable wages, 5) Supply and demand, and 6) Ability to pay”.

a.    Faktor Pemerintah
Peraturan pemerintah yang berhubungan dengan penentuan standar gaji minimal, pajak penghasilan, penetapan harga bahan baku, biaya transportasi/angkutan, inflasi maupun devaluasi sangat mempengaruhi perusahaan dalam menentukan kebijakan kompensasi pegawai.
b.      Penawaran Bersama antara Perusahaan dan Pegawai
Kebijakan dalam menentukan kompensasi dapat dipengaruhi pula pada saat terjadinya tawar menawar mengenai besarnya upah yang harus diberikan oleh perusahaan kepada pegawainya.Hal ini terutama dilakukan oleh perusahaan dalam merekrut pegawai yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu yang sangat dibutuhkan di perusahaan.
c.       Standard dan Biaya Hidup Pegawai
Kebijakan kompensasi perlu mempertimbangkan standard dan biaya hidup minimal pegawai.Hal ini karena kebutuhan dasar pegawai harus terpenuhi. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar pegawai dan keluarganya, maka pegawai akan merasa aman. Terpenuhinya kebutuhan dasar dan rasa aman pegawai akan memungkinkan pegawai dapat bekerja dengan penuh motivasi untuk mencapai tujuan perusahaan. Banyak penelitian menunjukan bahwa ada korelasi tinggi antara motivasi kerja pegawai dan prestasi kerjanya, ada korelasi positif antara motivasi kerja dan pencapaian tujuan perusahaan.
d.      Ukuran Perbandingan Upah
Kebijakan dalam menentukan kompensasi dipengaruhi pula oleh ukuran besar kecilnya perusahaan, tingkat pendidikan pegawai, masa kerja pegawai.Artinya, perbandingan tingkat upah pegawai perlu memperhatikan tingkat pendidikan, masa kerja, dan ukuran perusahaan.
e.       Permintaan dan Persediaan
Dalam menentukan kebijakan kompensasi pegawai perlu mempertimbangkan tingkat persediaan dan permintaan pasar.Artinya, kondisi pasar pada saat itu perlu dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan tingkat upah pegawai.

f.       Kemampuan Membayar
Dalam menentukan kebijakan kompensasi pegawai perlu didasarkan pada kemampuan perusahaan dalam membayar upah pegawai.Artinya, jangan sampai menentukan kebijakan kompensasi di luar batas kemampuan yang ada pada perusahaan.

4.     Bentuk-Bentuk Kompensasi Pegawai
Ada dua bentuk kompensasi pegawai, yaitu bentuk langsung yang merupakan upah dan gaji, bentuk kompensasi yang tak langsung yang merupakan pelayanan dan keuntungan.
a.       Upah dan Gaji
Upah adalah pembayaran berupa uang untuk pelayanan kerja atau uang yang biasanya dibayarkan kepada pegawai secara per jam, per hari, dan per setengah hari.Sedangkan gaji merupakan uang yang dibayarkan kepada pegawai atas jasa pelayanannya yang diberikan secara bulanan.
          Dibawah ini dikemukakan prinsip upah dan gaji, yaitu tingkat bayaran, struktur bayaran, menentukan bayaran secara individu, metode pembayaran, dan control pembayaran.
1)      Tingkat bayaran bisa diberikan tinggi, rata-rata, atau rendah bergantung pada kondisi perusahaan. Artinya, tingkat pembayaran bergantung pada kemampuan membayar jasa pegawainya.
2)      Struktur Pembayaran
Struktur pembayaran berhubungan dengan rata-rata bayaran, tingkat pembayaran, dan klasifikasi jabatan di perusahaan.
3)      Penentuan Bayaran Individu
Penentun bayaran individu perlu didasarkan pada rata-rata tingkat bayaran, tingkat pendidikan, masa kerja, dan prestasi kerja pegawai.
4)      Metode Pembayaran
Ada dua metode pembayaran, yaitu metode pembayaran yang didasarkan pada waktu (per jam, per hari, per minggu, per bulan).Kedua, metode pembayaran yang didasarkan pada pembagian hasil.
5)      Kontrol Pembayaran
Kontrol pembayaran merupakan pengendalian secara langsung dan tak langsung dari biaya kerja.Pengendalian biaya merupakan factor utama dalam administrasiupah dan gaji.Tugas mengontrol pembayaran adalah pertama, mengembangan standar kompensasi dan meningkatkan fungsinya.Kedua, mengukur hasil yang bertentangan dengan standar yang tetap. Ketiga, meluruskan perubahan standar pembayaran upah.

b.      Benefit (Keuntungan) dan Pelayanan
          Benefit adalah nilai keuangan (moneter) langsung untuk pegawai yang secara cepat dapat ditentukan. Sedangkan pelayanan adalah nilai keuangan (moneter) langsung untuk pegawai yang tidak dapat secara mudah ditentukan.
                         Program benefit bertujuan untuk memperkecil turnover, meningkatkan modal kerja, dan meningkatkan keamanan. Adapun kriteria program benefit adalah biaya, kemampuan membayar, kebutuhan, kekuatan kerja, tanggung jawab sosial, reaksi kekuatan kerja, dan relasi umum. Sedangkan program pelayanan adalah laporan tahunan untuk pegawai, adanya tim olahraga, kamar tamu pegawai, kafetaria pegawai, surat kabar perusahaan, toko perusahaan, discount (potongan harga) produk perusahaan, bantuan hukum, fasilitas ruang baca dan perpustakaan, pemberian makan siang, adanya fasilitas medis, dokter perusahaan, tempat parker, ada program rekreasi atau darmawista.[8]

5.      Tantangan-Tantangan Dalam Kebijakan Kompensasi
a.      Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja
Pada prakteknya, penurunan penawaran atas tenaga kerja dapat diakibatkan pembatasan oleh serikat buruh dalam tujuan untuk meningktatkan kompensasi. Tindakan lain peningkatan permintaan akan tenaga kerja dapat meningkatkan kompensasi. Keadaan sebaliknya, penurunan kompensasi akan terjadi bila serikat buruh tidak membatasi jumlah pekerja, situasi ekonomi tidak baik, kondisi keuangan perusahaan tidak mendukung dsb.
b.      Perekonomian
Petumbuhan perekonomian yang pesat yang dialami oleh suatu Negara tertentu akan menciptakan daya saing lebih besar akan mendorong tingkat upah dan gaji naik. Sebaliknya, kondisi perekonomian yang memburuk meningkatkan penawaran tenaga kerja menyebabkan rendahnya gaji yang diterima para pekerjanya.
c.       Serikat buruh
Serikat buruh dapat membatasi penawaran tenaga kerja sehingga berakibat pada kenaikan kompensasi. Kuatnya serikat buruh dalam organisasi akan mendorong untuk meningkatkan besarnya kompensasi yang diterima karyawan. Tetapi, sebaliknya apabila serikat buruh lemah maka perusahaanlah yang cenderung menentukan besarnya tingkat upah bagi karyawan.
d.      Kondisi keuangan perusahaan
Kondisi keuangan organisasi merupakan faktor penting dalam menentukan tingkat kompensasi yang layak. Apabila perusahaan itu dilihat dari segi financial memadai, maka tuntutan itu wajar untuk dinaikkan, tetapi sebaliknya kalau kondisi keuangan perusahaan tidak mendukung untuk dinaikkan, maka tuntutan itu merupakan suatu rencana untuk periode-periode berikutnya.


e.       Kebijakan perusahaan
Beragam persepsi karyawan tentang pemberian kompensasi, sebagian mempersepsikan adil namun sebagian karyawan lain mempersepsikan kurang adil. Keberagaman persepsi tentang keadilan kompensasi bila tidak diatasi sesegera mungkin dapat berpengaruh terhadap penurunan kinerja dan tinggi nya perputaran kerja.
f.       Produktivitas
Kebanyakan organisasi menentukan produktivitas sebagai ukuran keberhasilan, produktivitas tinggi yang dicapai merupakan keberhasilan organisasi tersebut. Produktivitas kerja individu atau kelompok akan menentukan besarnya kompensasi yang diterima nya.
g.      Biaya hidup
Biaya hidup di kota besar berbeda dengan biaya hidup di kota-kota kecil. Hal ini merupakan pertimbangan bagi perusahaan dalam menetapkan tingkat upah yang diterima karyawan. Orang-orang yang memiliki pendapatan tetap seperti para pegawai biasa pada suatu instansi tertentu memperoleh pendapatn rendah secara kenyataan akibat tingkat inflasi yang meningkat kondisi ini akan menurunkan daya belinya.
h.      Pemerintah
Pemerintah menentukan batas minimum upah yang diterima karyawan. Hal ini, pemerintah menentukan berdasarkan jenis pekerjaanya dan tidak terlepas dari biaya hidup masing-masing daerah. Berdasarkan hal tersebut, tingkat upah berbeda-beda sesuai dengan jenis pekerjaannya dan berbeda pula pada setiap daerah.[9]
6.      Intensif Kerja
a. Pengertian Intensif Kerja
Heidjrachman Ranupandoyo,dkk. (1988) memberikan pengertian insentif merupakan “ suatu bentuk motivasi yang dinyatakan dalam bentuk uang”. Begitu pula T. Hani Handoko (1985) mengemukakan “Insentif adalah untuk meningkatkan motivasi karyawan dalam upaya mencapai tujuan-tujuan organisasi”.
Abi Sujal (1990) berpendapat bahwa “Penghargaan berupa insentif atas dasar prestasi kerja yan tinggi merupkan rasa pengakuan dari pihak organisasi terhadap prestasi karyawan dan kontribusi kepada organisasi”.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, penulis mengartikan insentif kerja adalah suatu penghargaan dalam bentuk uang yang diberikan oleh pihak pemimpin orgnisasi kepada karyawan agar mereka bekerja dengan  motivasi yang tinggi dan berprestasi dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi atau dengan kata lain, insentif kerja merupakan pemberian uang di luar gaji yang dilakukan  oleh pihak pemimpin organisasi sebagai pengakuan terhadap prestasi kerja dan kontribusi karyawan kepada organisasi.
b.      Kesulitan dalam Sistem Penentuan Insentif Kerja
Beberapa kesulitan dalam system penentuan insentif kerja menurut Heidjracjman Ranupandoyo dkk. (1986), yaitu berikut ini:
1)      Beberapa alat pengukur dari berbagai prestasi karyawn haruslah dapat dibut secara tepat, bias diterima, dan wajar.
2)      Berbagai alat pengukur tersebut haruslah dihubungkan dengan tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.
3)      Data yang menyangkut berbagai prestasi haruslah dikumpulkan tiap hari, minggu atau bulan.
4)      Standar yang ditetapkan haruslah mempunyai kadar/tingkat kesulitan yang sama untuk setiap kelompok kerja.
5)      Gaji/upah total dari upah pokok plus bonus yang diterima, haruslah konsisten di antara berbagai kelompok pekerjaan yang menerima insentif, dan antara kelompok yang menerima insentif dan yang tidak menerima insentif.
6)      Standar prestasi haruslah disesuaikan secara periodik, dengan adanya perubahan dalam prosedur kerja.
7)      Berbagai reaksi karyawan terhadap sistem pengupahan insentif yang kita lakukan juga harus sudah diperkirakan.
            Selanjutnya Heidjracjman Ranupandoyo dkk.menjelaskan, beberapa sifat dasar dari insentif yang harus dipenuhi agar system upah insentif tersebut dapat berhasil, yaitu:
1)      Pembayarannya hendaknya sederhana, sehinga dapat dimengerti dan dihitung oleh karyawan sendiri.
2)      Penghasilan yang diterima buruh hendaknya langsung menaikkan output dan efisiensi.
3)      Pembayarannya hendaknya dilakukan secepat mungkin.
4)      Standar kerja hendaknya ditentukan dengan hati-hati. Standar kerja yang terlalu tinggi atau terlalu rendah sama tidak baiknya.
5)      Besarnya upah normal dengan standar kerja per-jam hendaknya cukup merangsang pekerjaan untuk bekerja lebih giat.[10]


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Motivasi merupakan tugas manajer untuk memperbaiki kinerja yang disebabkan ketidakpuasan yang dirasakan oleh pekerja. Motivasi dapat bersumber dari dalam diri pekerja yang berupa kesadaran mengenai pentingnya manfaat pekerjaan yang dilaksanakannya.
Kompensasi variabel berkaitan dengan pembayaran kepada para karyawan atas dasar unit dan waktu kerja. Pekerjaan yang diselesaikan melebihi batas standar akan diberikan penghargaan sesuai tarif per unit atau waktu yang telah ditentukan.











Daftar Pustaka

Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu. 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.  Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Bangun Wilson. 2012. Manajemen Sumber Daya. Bandung: Penerbit Erlangga.

Sedarmayanti. 2007. Manajemen Sumber DayaManusia, Reformasi Birokrasi dan Manajemen Pegawai Negeri Sipil. Bandung: Refika Aditama.


[1] Dr. A. A. Anwar Prabu Mangkunegara, Drs., M.Si. Psi., Manajemen Sumnber Daya Manusia Perusahaan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 93-94
[2] Prof. Dr. Wilson Bangun, S.E., M.Si. Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit Erlangga. 2012. hlm. 313-316
[3] Dr. A. A. Anwar Prabu Mangkunegara, Drs., M.Si. Psi., Manajemen Sumnber Daya Manusia Perusahaan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 94-100

[4] Prof. Dr. Wilson Bangun, S.E., M.Si. Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit Erlangga. 2012. hlm. 318-320
[5] Dr. A. A. Anwar Prabu Mangkunegara, Drs., M.Si. Psi., Manajemen Sumnber Daya Manusia Perusahaan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 100-102
[6] Ibid. hlm. 83
[7] Prof. Dr. Hj. Sedarmayanti, M.pd., APU. Manajemen Sumber Daya Manusia, Reformasi Birokrasi dan Manajemen Pegawai Negeri Sipil. PT. Refika Aditama. 2007. hlm. 239
[8] Dr. A. A. Anwar Prabu Mangkunegara, Drs., M.Si. Psi., Manajemen Sumnber Daya Manusia Perusahaan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 84-86
[9] [9] Prof. Dr. Wilson Bangun, S.E., M.Si. Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit Erlangga. 2012. hlm. 260-263
[10] Dr. A. A. Anwar Prabu Mangkunegara, Drs., M.Si. Psi., Manajemen Sumnber Daya Manusia Perusahaan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 85-86

Tidak ada komentar: