Kamis, 05 Februari 2015

Penerapan Strategi MIKR dalam Produk dan Jasa Bank Syariah



MAKALAH

“PENERAPAN STARTEGI MIKR DALAM PRODUK DAN JASA BANK SYARIAH”

 

Makalah ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Etika Bisnis Perbankan Syariah


Dosen : Drs.Agustianto.MAg.



  

                                                                                                                      



Disusun oleh :

M Irsyad Hidayatulloh                       (1113085000077)
                  



KELAS B/SMT 3
Perbankan Syariah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis



Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Jalan Ir. H. Djuanda No. 95, Ciputat, Tangerang Selatan 15412.
2014


KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena tuntunan, rahmat, dan karunia-Nyalah kita dapat melanjutkan kehidupan kita terutama kita tetap dapat menjalani aktivitas kita sehari-hari sebagai seorang mahasiswa, dan oleh karena perkenalannya pula penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul PENERAPAN STARTEGI MIKR DALAM PRODUK DAN JASA BANK SYARIAH, sebagai bentuk tugas mata kuliah  Etika Bisnis Perbankan Syariah yang dibawakan oleh Drs.Agustianto.MAg.
Dalam menyusun makalah ini, penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyajikan yang terbaik sesuai kemampuan penulis. Harapannya, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca khususnya mahasiswa terutama dalam menyusun makalah selanjutnya yang dapat digunakan sebagai referensi.
Akhir kata pengantar ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Drs.Agustianto.MAg. yang telah membimbing kami dalam proses belajar-mengajar, dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, dan jika ada kritik dan saran yang bersifat membangun penulis akan menerimanya sebagai bahan acuan mengoreksi diri dan kedepannya dapat menyajikan yang lebih baik lagi dari makalah ini.
                                                                                                  
                                                                                                   Ciputat,11 Januari 2015

                                                                                                    
                                                                                                   M Irsyad Hidayatulloh
                                                                                                   1113085000077



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................   2
DAFTAR ISI ............................................................................................................   3
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................   4
1.2 Rumusan Masalah ...............................................................................................   5
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................................................   5

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Pengertian MIKR ................................................................................................   6
2.2 Militan .................................................................................................................   7
2.3 Intelek .................................................................................................................  11
2.4 Kompetitif ...........................................................................................................  14
2.5 Regeneratif ..........................................................................................................  17
2.6 Produk dan Jasa Perbankan Syariah ...................................................................  21

BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan .........................................................................................................  24

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................  25


           
           
           
           
             


           
           
           
                                                                                                             
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dalam konteks modern saat ini,penaklukan tidak selalu berupa penaklukan fisik.tapi bisa berupa conquering terhadap para pesaing.tidak ada darah yang tumpah dan tidak ada jerit tangis yang ada adalah berebut pengaruh dengan memperkuat daya tarik sehingga organisasi mendapatkan dukungan atau dicari oleh para konsumen.
Al Ries dan Jack Trout dalam buku mereka Marketing Warfare menandaskan,pemasaran adalah perang dimana pesaing adalah lawannya dan benak pelanggan adalah lapangan pertempurannya,lalu bagaimana bisa merebut pengaruh dan menaklukan pesaing dengan memboyong loyalitas pelanggan kepada jasa yang kita tawarkan?
Pintu pertama yang perlu dibuka terkait dengan penaklukan pesaing ini adalah memetakan kekuatan produk dan jasa yang telah atau belum ditawarkan oleh pesaing.pada petak pertama,masyarakat sudah menunjukan permintaan tehadap produk perbankan syariah,namun belum satupun lembaga keuangan syariah yang menyentuhnya.area ini menjadi prioritas pertama bagi muamalat untuk membuka layanan kepada masyarakat.
Pada letak kedua,masyarakat sudah menginginkan layanan produk dan jasa syariah,sementara penyedia jasa syariah yang melihat potensinya juga sudah mulai masuk.meski demikian muamalat melihat area ini sebagai tempat prioritas kedua bila akan membuka titik layanan.selain tempat itu dinilai masih menjanjikan,muamalat juga siap bersaing dengan lembaga yang sudah memberikan layanan sejenis.
Pada petak ketiga,masyarakat belum melihat adanya kebutuhan layanan perbankan syariah.para pemain perbankan syariah juga belum melirik tempat ini sebagai area yang tepat untuk mengembangkan jaringan layanannya.bagi muamalat,tempat seperti ini menduduki prioritas ketiga bila menghendaki perluasan jaringan.
Pada petak keempat,masyarakat juga belu melihat adanya keperluan terhadap jasa dan layanan perbankan syariah.







1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan MIKR ?
2.      Apa yang dimaksud dengan Militan? Apa saja ruang lingkupnya?
3.      Apa yang dimaksud dengan Intelek? Apa saja ruang lingkupnya?
4.      Apa yang dimaksud dengan Kompetitif? Apa saja ruang lingkupnya?
5.      Apa yang dimaksud dengan Regeneratif ? Apa saja ruang lingkupnya?
6.      Apa saja Produk dan Jasa Perbankan Syariah ?


1.3  Tujuan Penulisan

1.    Untuk mengetahui definisi MIKR.
2.    Untuk mengetahui pengertian militan beseta ruang lingkupnya.
3.    Untuk mengetahui pengertian intelek beseta ruang lingkupnya.
4.    Untuk mengetahui pengertian kompetitif beseta ruang lingkupnya.
5.    Untuk mengetahui pengertian regeneratif beseta ruang lingkupnya.
6.    Untuk Mengetahui produk dan jasa perbankan syariah.











BAB 2
PEMBAHASAN

2.1     Pengertian MIKR
Dalam tataran filosofis,semua penaklukan pesaing dari kacamata muamalat dimulai dari penaklukan diri.itu artinya dalam menjalankan tugasnya,setiap kru muamalat perlu selalu menjaga tali allah (hablum minallah).semua perbuatan dan tindakannya diawasi dan akan diberikan balasan oleh allah,ia tidak bisa memperturutkan hawa nafsunya.menerima amplop dari nasabah bisa saja ia lakukan,tapi itu tidak sejalan dengan perintah allah,sehingga mutlak harus ditinggalkan.
Mereka bisa menolak tiap tindakan tak terpuji,jika mereka terus berzikr kepadanya.zikr dalam arti sebenarnya,yakni mengingat allah sebanyak banmyaknya untuk mendapat pertolongannya,juga zikr dalam arti akronim yaitu bersikap zero base,iman,konsisten,dan result oriented.ketika setiap kru muamalat bersama – sama melakukan zikr ini,secara otomatis tingkah laku dan perbuatannya akan terus dibimbing dan dilandasi oleh sikap ikhlas kepada allah dengan keyakinan yang tinggi siap mewujudkan result yang diinginkan organisasi.
Bersamaan dengan itu,secara horizontal setiap kru juga harus berpegang kepada tali manusia (hablum minnas).tali manusia ini dilakukan dengan melakukan sharing PIKR.ketika power,information,knowledge and rewards,bisa terdistribusi secara lebih merata,maka hubungan antar personal dalam organisasi akan menjadi harmonis.
Sharing PIKR hanya bisa berjalan optimal bila dilandasi filosofi ZIKR.keberhasilan berbagai PIKR akan melahirkan komunitas yang MIKR.dalam Bahasa jawa mikir berarti proses untuk terus berfikir,komunitas yang terus berfikir untuk antisipasif.berfikir tidak hanya dengan akal,tapi juga hati.
MIKR adalah akronim dari Militan,Intelek,Kompetitif,dan Regeneratif.Komunitas MIKR ditandai oleh semangat militansi yang luar biasa.militansi tanpa didukung oleh startegi ( intelektual) adalah konyol.militansi yang bersinergi dengan intelektual menghasilkan komunitas dengan daya juang tinggi (kompetitif).bila ia peleton pasukan,ia bisa mengalahkan dan menguasai musuhnya.bila organisasi bisnis,ia bisa mengalahkan pesaingnya.
“kenali dirimu maka kau tak akan terkalahkan,kenali lawanmu maka taka da lawan yang tak bisa dikalahkan”,demikian Sun Tzu seorang ahli startegi perang memberikan pandangan termashur tentang memenangkan peperangan.dalam rangka mengenali kemampuan pesaing.
Dengan cara ini fungsi kompetitif perlu terus dipelihara karena sekali ini terhenti,ciri unggul dari sebuah komunitas pun tamat.keunggulan yang tak bisa berkesinambungan,berarti kegagalan.untuk itu,keunggulan yang kompetitif yang telah berhasil dicapai perlu dijaga,dipelihara,dan akhirnya dilestarikan.inilah cermin sifat akhir dari MIKR yaitu Regeneratif.
Dengan terbentuknya komunitas MIKR,diharapkan akan tercipta sebuah lembaga yang kuat,kompetitif,dan bertahan lama.hanya melalui lembaga seperti ini perjuangan untuk memberi arti hidup menemukan aksentuasi.
2.2  Militan
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia mendefinisikan militan sebagai “bersemangat tinggi”,penuh gairah”.seorang yang militan berarti orang yang memiliki semangat tinggi dalam memperjuangkan apa yang diyakininya.daya juang yang tinggi itu tercermin dari kesiapan mereka untuk mengorbankan apa yang dimiliki harta dan jiwa untuk keridhaan allah.[1]
ٱنفِرُواْ خِفَافٗا وَثِقَالٗا وَجَٰهِدُواْ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٤١
41. Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (QS  9 : 41)
Tafsiran ayat : Ali bin Yazid meriwayatkan dari Anas dari Abi thalhah,dia menafsirkan “baik orang tua maupun pemuda,allah tidak mau mendengar alasan seseorang.”kemudaian abu thalhah berangkat ke syiria lalu berperang dan gugur.dalam riwayat lain dikatakan”adalah Abu thalhah membaca surat at – taubah hingga sampai ayat ini.kemudian ia berkata : aku berpandangan bahwa tuhan kami meminta kami berangkat perang walapun kami sebagai kakek – kakek maupun pemuda.kemudian allah swt memotivasi manusia supaya berinfaq dijalan allah dan mengerahkan nyawanya dalam meraih keridhaannya dan keridhaan rasulnya.hal ini adalah lebih baik bagimu didunia dan akhirat karena kamu mendapat kesulitan dalam perekonomian,lalu allah menjadikan harta musuhmu sebagai ghanimah bagimu di dunia.[2]




Sifat –sifat yang terdapat dalam Militan
  • Tidak takut mati
Buah dari sikap militan adalah tidak takut mati.dalam pandangan seorang militan,kematian hanyalah jalan yang akan mendekatkan kepada allah sekaligus meraih janjinya.kematian bisa dating ditengah peperangan,tapi bisa juga diatas pembaringan.
Ada ilustrasi yang disarikan dari sebuah hadist yang diriwayatkan oleh khuzaimah itu begitu tegas maksudnya.betapa seseorang tak bisa bersembunyi dari kematian ketika ajalnya tiba.kemanapun pergi,kematian akan mendatangi dan sehebat apapun rencana maut pasti menjemputnya.[3]
Maut mengintai setiap saat.ia tak pandang bulu,tak membedakan tua atau muda,kaya atau muskin,cerdas atau pandai,siap atau lalai,bila ketentuan allah telah tiba,izrail dating menunaikan tugasnya,hanya masalahnya siapkah kita menjemputnya.
Rutinitas hidup umumnya telah memalingkan manusia dari kenyataan ini.Al – Quran menyebutkan,kenikmatan dunia telah merenggut kewaspadaannya kepada maut.
أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ ١  حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ٢
1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur (QS.102 : 1 – 2)
Tafsiran ayat : bermegahan dengan anak,harta,dan dunia telah melalaikan kamu di akhirat “hingga masuk ke  dalam kubur “ yaitu hingga kematian datang menjemput kamu.[4]
Departemen Agama menafsirkan “bermegah – megahan “ dalam ayat ini khususnya dilakukan manusia dengan berbangga – bangga dalam banyaknya,anak,harta,pengikut dan kemuliaan.sampai – sampai kebanggan itu membuat mereka lalai dari ketaatan kepada allah swt.mereka sibuk membangun rumah – rumah megah,tak pernah puas mengoleksi mobil – mobil mewah,terus menghitung dan menumpukan miliaran rupiah.
  • Siap dan Terlatih
Selain berani mati,seorang militan berani berjuang karena terlatih.mereka bukanlah martir – martir yang asal siap dikorbankan.kisah thalut melawan jalut (dalam legenda barat lebih dikenal sebagai David dan Goliath ) memberikan pelajaran ini.dengan dianugerahi tabut ialah peti yang didalamnya  terdapat ketenangan dari allah dan sisa – sisa peninggalan keluarga musa dan harun,thalut mendapat legitimasi memimpin pasukan bani Israel.diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ash – Shiddiq,telah berkumpul delapan puluh ribu tentara mukmin dibawah komando thalut yang akan berperang melawan pasukan jalut (Goliath).
Namun dari jumlah itu,apakah semuanya terlatih?tentara yang terlatih artinya tentara yang memang sudah lulus ujian baik teori maupun lapangan.ia disiplin terhadap tugas dan komando panglima.
Tentang hal ini,Quran mengisahkan :
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِٱلۡجُنُودِ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ مُبۡتَلِيكُم بِنَهَرٖ فَمَن شَرِبَ مِنۡهُ فَلَيۡسَ مِنِّي وَمَن لَّمۡ يَطۡعَمۡهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّيٓ إِلَّا مَنِ ٱغۡتَرَفَ غُرۡفَةَۢ بِيَدِهِۦۚ فَشَرِبُواْ مِنۡهُ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنۡهُمۡۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ قَالُواْ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلۡيَوۡمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦۚ قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُواْ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٢٤٩
249. Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku". Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya". Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar"


Kru militan bekerja dengan ulet,sabar,konsisten,dan tak pernah putus asa karena mereka yakin,apa yang mereka lakukan tidak pernah sia – sia.kalaupun di dunia hasilnya belum maksimal,mereka masih punya harapan mendapatkan pahala di akhirat.kru yang militan selain memiliki semangat tinggi dalam bekerja,ia juga orang yang terlatih,ia memiliki keterampilan untuk bisa bekerja dalam kapasitas sebagai individu.dalam kesempatan tertentu,ia bisa memerankan kerja sama dan koordinasi sebagai sebuah tim kerja yang solid.
Ia seyogianya bisa menggunakan dan mengeksekusi power yang dimilikinya untuk kepentingan lembaga.ia juga sabar dalam mewujudkan tujuan dari institusi.pada saat yang sama,ia juga selalu bersemangat untuk menambah pengetahuan dan mengasahnya menjadi keterampilan.ia pun siap mencari informasi yang kan menjadi dasar dan pedoman bagi pengambilan keputusannya.
Hanya dengan cara itu,mereka menjadi kekuatan yang memiliki daya juang.mungkin kompetensi mereka kalah dibandingkan kru dari kelompok lainnya.namun,yang harus dicatat mereka selalu bersemangat dalam bekerja,beribadah mewujudkan cita – citanya.pilihan hanya satu menaklukan dan mensyariahkan ekonomi umat dan membawanya kedalam kejayaan.. 

2.3    Intelek: Berakal dan Menghargai Perbedaan
Sifat kedua MIKR adalah Intelek. Secara harfiah intelek (intellect) berarti orang yang pandai. Kata benda lain dari intelek adalah intelektual (intellectual) yang berarti cendekiawan atau cerdik pandai. Mereka disebut pandai karena mendayagunakan akalnya. Seorang intelek condong untuk memikirkan masa depan manusia hingga tercipta masyarakat madani, bukan berpikir untuk mengeksploitasinya untuk keuntungan diri sendiri.
Berikut adalah ciri-ciri orang yang memiliki sifat Intelek :
1.  Mendayagunakan Akal
Tanda masyarakat Intelek adalah mereka mendayagunakan anugerah akal yang diberikan Tuhan untuk kepentingan kemanusiaan. Masyarakat intelek adalah masyarakat yang menggunakan akal sehatnya untuk menilai sesuatu. Tentang pendayagunaan akal ini, ada sebuah hadist yang menyebutkan La diina liman la aqla lah. Seseorang  itu belum dianggap beragam dengan sempurna sehingga dia memaksimalkan potensi akalnya. Allah pun memberikan derajat yang tinggi kepada orang-orang yang mendayagunakan akalnya
Š
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. 58:11)

Tafsiran ayat : Qatadah mengatakan,bila kamu dipanggil kepada kebaikan maka sambutlah “Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan,”bila mereka diperintahkan untuk pergi hendaklah mereka pergi.hal ini seperti firmannya “bila dikatakan kepda kamu pulanglah maka pulanglah kamu.”selanjutnya allah swt berfirman,” Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”yaitu janganlah kamu mengira bila kamu memberikan kelapangan kepada saudaramu yang datang atau bila dia diperintahkan untuk keluar,lalu dia keluar akan mengurangi haknya.bahkan ini merupakan ketinggian dan perolehan martabat disisi allah allah.sedangkan allah tidak akan menyia – nyiakan hal itu,bahkan dia akan memberikan balasan kepadanya didunia dan akhirat.karena orang orang yang merendahkan diri kepada allah maka allah akan mengangkat derajatnya dan akan mempopulerkan namanya.dan allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”[5]
Orang intelek akan mendayagunakan semua knowledge dan skills yang dibutuhkan untuk berprestasi. Ia akan memaksimalkan attitude positif untuk mendorong kebutuhan untuk memajukan diri dan lembaga tempatnya berkiprah.
Pada akhirnya, intelektualitas yang didasari militansi menciptakan tenaga kerja yang mampu menyumbangkan kemampuan terbaiknya. Militansi yang tidak didampingi oleh intelektualitas akan menjadi sesuatu yang berbahaya.

2.  Menghargai Perbedaan
Selain mendayagunakan akal, komunitas yang intelek juga menghargai perbedaan. Setiap orang bebas dan tidak ragu untuk mengungkapkan ide-ide terbaiknya tanpa takut dibodohi atau dimusuhi. Dalam komunitas intelektual, semua tidak harus sama, tidak harus seragam. Perbedaan justru diakui sebagai bagian unik dari penciptaan manusia. Perbedaan sejak dari sananya sudah di desain oleh Allah untuk menjadi bau ujian bagi siapa yang bertaqwa.
 
“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. 49:13)

Perbedaan dijadikan oleh Allah justru supaya manusia saling mengenal dan berkolaborasi. Masing-masing menyumbangkan ide-ide terbaik yang pada akhirnya akan menjadi ide atau gagasan yang akan diwujudkan bersama.
Karena itu Rasulullah SAW mendorong munculnya pendapat yang bisa memagari dari penyelewengan dan ancaman kemungkaran. Nabi bersabda, “Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tanganya, jika tidak mampu maka hendaklah dengan lisanya, jika tidak mampu maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemahnya iman.”

3.  Meningkatkan Nilai Tambah
Dalam konteks organisasi bisnis, menurut penelitian James Quinn, Philip Anderson, dan Sydney Finkelstein, (Managing Professional Intellect: Making The Most of The Best), kekuatan intelek akan berperan pada peningkatan knowledge, keterampilan tinggi (advanced skills), pemahaman yang mendalam suatu sistem (system understanding) yakni memahami hubungan sebab-akibat yang terjadi dan memperkuat motivasi diri untuk berprestasi.
Quinn menunjukkan, advanced skills jauh lebih berperan dalam menyumbangkan kesuksesan bisnis ketimbang kreativitas. Dengan mengetahui system understanding yang memadai, kru bisa meningkatkan kemampuan mengatasi masalah yang dihadapi.

4.  Menangkap Hikmah di Setiap Peristiwa
Bagaimana seseorang intelek bisa memberikan nilai tambah bagi diri dan organisasinya? Seorang intelek memiliki banyak keunggulan. Dia melihat segala sesuatu dengan apa adanya (zerro base), termasuk kenyataan bahwa dunia mengandung keragaman bangsa,bahasa, agama dan cara pandang.
Sikap dan cara kerjanya selalu didasari oleh prasangka baik kepada Allah sebagai pengaruh Zero Base, iman, militansi, dan rasa aman. Itulah yang membuatnya merasa nyaman dan tidak terancam oleh adanya perbedaan. Potensi perbedaan dianggapnya justru memperkaya bagi jalan pencapaian tujuan. Perbedaan pada akhirnya akan mempertajam dan menjadikan sebuah konsep lebih matang dan pada gilirannya siap untuk dijadikan acuan bagi tujuan organisasi.
Seorang intelek mampu menangkap hikmah dalam setiap kejadian. Dia tidak lagi melihat sesuatu peristiwa dari kacamata menyenangkan atau tidak menyenangkan, tetapi dari cara pandang manfaat dan mudharat, karena pada dasarnya semua itu, terlepas menyenangkan atau tidak, adalah pelajaran yang berharga yang dapat diambil manfaat. Pada akhirnya, apa yang dia ambil sebagai hikmah itu dijadikan cermin untuk meningkatkan daya saing dalam meraih tujuan akhir.

2.4     Kompetitif : Efisien dan Berdaya Saing
Sebuah organisasi bisnis akan diperhitungkan oleh para pesaingnya jika ia memiliki keunggulan. Ada dua keunggulan utama: keunggulan kompetitif (competitive advantage) dan keunggulan komparatif (comparative advantage). Keunggulan kompetitif umumnya dicirikan dari penguasaan teknologi, sedangkan keunggulan komparatif dicirikan dengan pemilikan sumber daya alam yang melimpah.
Penguasaan teknologi tak lepas dari kualitas sumber daya insani (SDI) yang ada. Karenanya, untuk meraih keunggulan kompetitif, diperlukan SDI yang kompeten. Semakin kompeten SDI yang dimiliki, daya saing organisasi akan semakin tinggi. Kru yang kompeten adalah mereka yang tidak saja memiliki penguasaan knowledge dan informasi yang dibutuhkan buat berprestasi, tapi juga kemauan untuk berperan serta menyumbangkan kinerja terbaiknya buat organisasi.
Tuntutan untuk kompetitif dalam masa sekarang ini bisa diukur dari empat faktor utama: kualitas dari barang dan jasa yang ditawarkan, biaya yang diperlukan untuk menghasilkan barang dan jasa itu, kecepatan barang dan jasa sampai ditangan konsumen, dan inovasi dalam pengembangan barang dan jasa itu.
1.  Brand Image
Contihnya Bank Muamalat, diatas yang lainya, brand image yang kuat adalah sumber daya yang diberikan Allah yang tak ternilai. Allah telah menakdirkan Muamalat menjadi bank syariah pertama di Indonesia dengan sejarah pendiria yang begitu berliku, penuh perjuangan, dan patriotik. Semestinya kru Muamalat saat ini dapat mengolaborasi keunggulan ini menjadi bagian keunggulan kompetitif yang tak terkalahkan.
Citra pertama murni syariah menjadi nilai dan modal utama bagi Muamalat sebagai bagian yang menonjol dalam aspekk pemasaran semua produk dan jasa yang ditawarkanya. Imej sebagai bank pertama yang identik dengan keaslian dan keahlian merupakan janji yang pemenuhanya diharapkan oleh setiap stakeholders yang bersentuhan dengan Muamalat.

2.  SDI Mumpuni
Sebuah organisasi bisnis perlu meemlihara dan menjaga keunggulan kompetitufnya untuk terus bisa dipenuhi. Dan untuk mewujudkannya, tidak bisa tidak, organisasi membutuhkan SDI yang mumpuni.
SDI yangm mumpuni adalah kru yang paling tidak memenuhi dua syarat, militan dan intelek. SDI yang militan dimiliki oleh kru yang beriman, yakni dalam setiap usahanya. SDI militan selalu konsisten, bersemangat juang tinggi mewujudkan result yang telah digariskan organisasi. Sedang SDI yang intelek berarti kru yang memiliki cukup power, informasi dan pengetahuan (knowledge) yang dibutuhkan untuk membuat keputusan terbaik buat organisasi.
Kru yang kompetitif pada giliranya akan mengarahkan organisasi memiliki daya saing yang tinggi ditengah kompetisi yang ada.
Kru bisa memiliki daya saing yang tinggi bila ia bisa memadukan antara sikap militansi dan intelektualitas. Dengan kata lain, ia perlu menyeimbangkan antara ZIKR dan PIKR.
ZIKR  membangun jembatan vertikal (hablum minallah) menuju keridhaan Allah. Dengan ZIKR, totalitas tindakan kru akan dipersembahkan kepada Allah. Tindakan positif akan dicatat sebagai kebaikan (pahala) dan sebaliknya tindakan negatif akan diberikan sanksi (dosa). ZIKR melahirkan militansi.
Sedangkan PIKR memberikan bekal bagi kru untuk bisa harmonis secara horizontal dalam berhubungan dengan manusia (hablum minan-nas). Seorang kru yang membagi power, informasi, knowledge, dan rewards, justru akan mengukuhkan penguasaanya kepada apa yang telah diraihnya itu, sementara kru lain yang menerimanya, ia makin bertambah ilmu dan cerdas dalam bersikap. PIKR melahirkan kru yang intelektual. Karenanya, dengan menyeimbangkan ZIKR dan PIKR, kru akan berdaya saing atau kompetitif.
Didalam Al-Qur’an, paduan dan keseimbangan yang harmonis antara hablum minallah (tali Allah) dan hablum minan-nas (tali manusia), akan menghindarkannya dari bencana: kehinaan dan kemelaratan 
“Dikenakan pada mereka kehinaan dimana pun mereka berada- kecuali jika mereka berpegang kepada tali Allah dan tali manusia- dan kembalilah mereka dengan kemurkaan Allah sambil ditimpa kemelaratan.” (QS.3:112)
Dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan atau yang lebih dikenal dengan taqwa, maka Allah akan menjadikan kesulitan hamba-Nya yang bertaqwa menjadi kemudahan, kesempitan menjadi kelapangan, bahkan membukakan pintu rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.


3.  Menciptakan Efisiensi
Dalam menjalankan misinya, Muamalat perlu menciptakan efisiensi sebagai bagian untuk meningkatkan kinerja. Efisiensi disini tidak selalu mengarah kepada bagaimana menekan jasa dan produk yang ditawarkan kepada nasabah dengan harga yang lebih rendah, tapi lebih mengarah kepada pemberian layanan dengan nilai tambah yang lebih besar dari pesaing.
Result Oriented, telah dibahas perampingan organisasi dari segi penyatuan visi dan focusing. Namun lebih dari itu, perampingan organisasi dari 16 divisi hingga tinggal lima divisi otomatis berdampak pada terciptanya efisiensi.
Birokrasi yang lebbih besar dari bisnis pada sisi lain melahirkan orang-orang yang sangat dominan dalam mengambil keputusan. Bukan manajemen partisipatif yang kemudian muncul, melainkan sikap otoriter dan suasana yang tidak kondusif bagi terciptanya iklim bisnis.



2.5    Regeneratif : Patah Tumbuh Hilang Berganti
Banyak organisasi yang menciptakan kemampuan kompetitifnya. Namun, sedikit yang bisa menjaga daya kompetitif itu berkesinambungan  (sustainable competitiveness) atau berapa lama. Kenapa demikian?
Kesalahan utamanya adalah karena mereka tidak mampu memelihara dan menghasilkan keunggulan kompetitif itu dan mewariskannya kepada genereasi selanjutnya. Menurut Vadim Kotelnikov, daya kompetitif yang berkesinambungan sebetulnya dapat diciptakan dengan terus membangun produk atau jasa dengan menggunakan sumber daya (resources) dan kemampuan (capabilities) baru sebagai respons terhadap dinamika pasar.
Selanjutnya ia memaparkan, sebuah organisasi bisnis perlu menentukan dua hal penting dari capabilities yaitu kemampuan yang berbeda (distinctive capabilites) dan kemampuan itu bisa direproduksi terus (reproducible capabilites). Kombinasi dari dua hal ini akan menyumbangkan bagian utama yang dibutuhkan oleh suatu institusi untuk kompetitif. Distinctive capabilitiies yang paling mendasar yang perlu dibangun oleh institusi adalah karakter yang khas yang tak bisa ditiru oleh pesaing. Kalaupun bisa direplikasi, karakter yang pas ini bisa berupa hak paten, lisensi ekslusif, brands yang kuat, kepemimpinan yang efektif (effective leadership), kemampuan team work , atau ilmu yang diperoleh  dari pengembangan sendiri (tacit knowledge).
 Fungsi Regeneratif          
Fungsi-fungsi dari militansi dan intelektualitas yang pada akhirnya menghasilkan daya saing itu harus terus bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Kuncinya pada kesadaran dari setiap kru untuk terus ZIKR dan sharing PIKR.
Fungsi militansi bisa diaebut sebagai karakter khas yang harus terus dibentuk.  Sifat militan diharapkan  menjadi sifat dasar dari seluruh kru yang pada giliranya menjadi karakter yang paling khas yang paling sulit dibentuk atau ditiru oleh pesaing. Proses rekrutmen kru tidak hanya dititikberatkan kepada sisi kompetensi, tetapi juga semangat dan daya juangnya.
Pada saat yang sama, proses sharing PIKR juga perlu berkesinambungan. Proses ini mutlak memerlukan manajemen yang open atau transparan, egaliter dan memberdayakan. Sekali manajemen terlibat kasus amoral atau tindakan menyeleweng, trust dari selurih kru akan hilang.
Manajemen juga harus menunjukkan perilaku egaliter. Dalam lingkungan kru yang militan, mutu seseorang tidak lagi ditentukan oleh tingginya jabatan atau senioritas, tapi seberapa besarnya komitmen untuk menjalankan fungsi ketaqwaan kepada Allah.

"Sesungguhnya, orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa." (Q.S. 49:13)
Tafsiran ayat : Allah swt memberitahukan kepada umat manusia bahwa dia telah menciptakan mereka dari satu jiwa dan telah menjadikan dari jiwa itu pasangannya.itulah adam dan hawa dan allah juga telah menciptakan mereka berbangsa – bangsa dan bersuku – suku.maka kemuliaan manusia dipandang dari kaitan ketanahannya dengan adam dan hawa adalah sama.hanya saja kemulian mereka itu bertingkat – tingkat bila dilihat dari sudut keagamaan,seperti dalam hal ketaatan kepada allah SWT dan kepatuhan kepada rasulnya.karena itu setelah allah melarang manusia berbuat ghibah dan menghina satu sama lain,maka dia mengingatkan bahwa mereka itu sama dalam segi kemanusiaan.[6]
Karena itu, senioritas diletakkan diposisi proporsional. seorang senior patut mendapatkan respek bukan karena ia lebih dulu masuk sehingga berhak 'memplonco' kru lain yang datang setelahnya, tapi karena akhlaknya. Nabi Muhammad SAW mengingatkan,
"Tidak termasuk golongan kami, mereka yang tidak menyayangi orang-orang muda (yunior) diantara mereka, dan tidak pula menghormati mereka yang lebih tua (senior) dari mereka."
Tingkat senioritas justru akan menjadi nilai lebih bila mereka ikut aktif dalam memberdayakan kru di bawahnya. Pemberdayaan ini akan terlihat ketika sharing power, informasi, knowledge dan rewards (PIKR) bisa berjalan dengan semestinya. Sharing PIKR perlu lebih intensif dilakukan. Karena tantangan yang dihadapi oleh kru dari waktu ke waktu akan semakin berat. Mereka harus dipersiapkan bisa menghadapi masa yang tantangannya semakin besar. Al-Qur'an mengingatkan,

 9. dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.(QS 4 : 9 )
Tafsiran ayat : Ali bin Ali Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas,dia berkata,”ayat ini berkaitan dengan seseorang yang menjelang ajal.ada orang lain yang mendengar wasiat itu agar bertaqwa kepada allah,meluruskan,dan membenarkan orang yang berwasiat serta agar memperhatikan ahli waris yang tentunya dia ingin berbuat baik kepada mereka dan khawatir jika dia membuat mereka terlantar.[7]
1. Menjaring Pimpinan Masa Depan
Dalam kerangka menyiapkan kru yang terampil dan siap menghadapi tantangan yang makin besar., manajemen telah menyiapkan sistem yang secara simultan akan menyeleksi bibit yang cocok buat melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan berikutnya.
2. Terus Tergantikan
Bila proses sharing PIKR ini bisa terus berkelanjutan,maka kru yang ada akan salimg tergantikan. Dalil bahwa seorang kru perlu konsisten disuatu tempat untuk memipuk keahlianya secata spesifik menjadi batal. Sebaliknya , setiap kru menjalani tour of duty sehingga meski tidak terlalu spesifik, pada akhirnya mereka meomilki kemampuan disemua lini. Dengan demikian, bila sewaktu-wwktu ada kru yang berhalangan menjalankan fungsinya, segera bisa digantikan.
Selain itu, roda kepemimpinan akan berjalan dinamis. Tidak akan ada alasan seoramg kru tidak boleh memimpin karena dipandang belum cukup senior. Sebaliknya, kemampuan dan kerja keras yang telah dibuktikannya akan menjadi tiket pantas tidaknya seorang kru duduk pada posisi pimpinan.
Dengan dasar seperti ini, tidak ada seorang pun kru yang tidak bisa digantikan
Semua bergerak maju. Fungsi-fungsi yang tidak berjalan karena ditinggalkan kru akan otomatis diisi oleh kru lain yang kompeten. Ibarat peribahasa, patah tumbuh hilang berganti. Organisasi tidak bergantung pada satu-dua orang kru, tapi meratakan fungsi itu sehingga secara regeneratif bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.





2.6 Produk dan Jasa Bank Syariah



















Rounded Rectangle: BAGI HASIL
Rounded Rectangle: JUAL BELI
Rounded Rectangle: SEWA
Rounded Rectangle: JASA
 









Bagi Hasil ( Profit – Sharing )
Al Musyarakah
Al Musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tetentu dimana masing – masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.[8]
Al Mudharabah
Al Mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama menyediakan seluruh modal,sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola.
Al Muzara’ah
Al Muzara’ah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dan penggarapa,dimana pemilik lahan memberikan lahan pertanian kepada si penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan bagian tertentu daru hasil panen.[9]
Al Musaqah
Al Musaqah adalah bentuk yang lebih sederhana dari muzara’ah dimana si penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan sebagai imbalan,si penggarap berhak atas nisbah tertentu dari hasil panen.[10]

Jual Beli ( Sale and Purchase )
Bai al Murabahah
Bai al murbahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati.
Bai as Salam
Bai as salam adalah pembelian barang yang diserahkan dikemudian hari sedangkan pembayaran dilakukan dimuka.
Bai al Istishna
Merupakan kontrak penualan antara pembeli dan pembuat barang.[11]

Sewa ( Operating Lease and Financial Lease )
Al Ijarah
Al Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa,melalui pembayaran upah sewa,tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri.
AL Ijarah AL Muntahia bit Tamlik
Adalah sejenis perpaduan antara kontrak jual beli dan sewa atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri perpaduan antara kontrak jual beli dan sewa atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan si penyewa.[12]

Jasa ( Fee Based Service )
AL Wakalah
Al wakalah adalah pelimpahan kekuasaaan oleh seseorang kepada yang lain dalam hal – hal yang diwakilkan.
AL Kafalah
Al kafalah merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung.
AL Hawalah
Al hawalah adalah pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya.
AR Rahn
Ar rahn adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya.
AL Qardh
Al Qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan.[13] 






BAB 3
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
MIKR adalah akronim dari Militan,Intelek,Kompetitif,dan Regeneratif.Komunitas MIKR ditandai oleh semangat militansi yang luar biasa.militansi tanpa didukung oleh startegi ( intelektual) adalah konyol.militansi yang bersinergi dengan intelektual menghasilkan komunitas dengan daya juang tinggi (kompetitif).bila ia peleton pasukan,ia bisa mengalahkan dan menguasai musuhnya.bila organisasi bisnis,ia bisa mengalahkan pesaingnya.
“militan berarti orang yang memiliki semangat tinggi dalam memperjuangkan apa yang diyakininya.daya juang yang tinggi itu tercermin dari kesiapan mereka untuk mengorbankan apa yang dimiliki harta dan jiwa untuk keridhaan allah
Sifat kedua MIKR adalah Intelek. Secara harfiah intelek (intellect) berarti orang yang pandai. Kata benda lain dari intelek adalah intelektual (intellectual) yang berarti cendekiawan atau cerdik pandai.
Sebuah organisasi bisnis akan diperhitungkan oleh para pesaingnya jika ia memiliki keunggulan. Ada dua keunggulan utama: keunggulan kompetitif (competitive advantage) dan keunggulan komparatif (comparative advantage).
 Menurut Vadim Kotelnikov, daya kompetitif yang berkesinambungan sebetulnya dapat diciptakan dengan terus membangun produk atau jasa dengan menggunakan sumber daya (resources) dan kemampuan (capabilities) baru sebagai respons terhadap dinamika pasar.
Secara umum produk dan jasa perbankan syariah terbagi menjadi 4 kategori yaitu,bagi hasil,jual beli,sewa dan jasa.bagi hasil terdiri dari : musyarakah,mudharabah,                                                          muzara’ah,dan musaqah.jual beli terdiri dari : murabahah,as salam,istishna.sewa terdiri dari : al ijarah,al ijarah al muntahia bit tamlik.jasa tediri dari : al wakalah,al kafalah,al hawalah,ar rahn,al qardh.



DAFTAR PUSTAKA

,M Syafi’I Antonio,.Bank Syariah dari Teori ke Praktik,(Jakarta : Gema Insani) 2001
,Katsir,Ibnu Katsir,Kemudahan dari Allah,(Jakarta : Gema Insani) 1999.
Amin, Riawan, The Celestial Management, Penerbit Senayan Abadi Publishing, cetakan pertama, Jakarta 2004




[1] Amin, Riawan, The Celestial Management,( Jakarta : Senayan Abadi Publishing), cetakan pertama, 2004.hal 209.
[2] Ibnu Katsir,Kemudahan dari Allah,(Jakarta : Gema Insani) 1999.hal 609 Jilid 2.
[3] Ibid 212
[4] Ibnu Katsir,Kemudahan dari Allah,(Jakarta : Gema Insani) 1999.hal 1037 Jilid 4.
[5] Ibnu Katsir,Kemudahan dari Allah,(Jakarta : Gema Insani) 1999.hal 631 Jilid 4
[6] Ibnu Katsir,Kemudahan dari Allah,(Jakarta : Gema Insani) 1999.hal 437 Jilid 4.
[7] Ibnu Katsir,Kemudahan dari Allah,(Jakarta : Gema Insani) 1999.hal 656 Jilid 1.
[8] Dr.M Syafi’I Antonio,M.Ec.Bank Syariah dari Teori ke Praktik,(Jakarta : Gema Insani) 2001.hal 90.
[9] Op.Cit.Dr.M Syafi’I Antonio.hal 99
[10] Op.Cit.Dr.M Syafi’I Antonio.hal 100.
[11] Op.Cit.Dr.M Syafi’I Antonio.hal 115.
[12] Op.Cit.Dr.M Syafi’I Antonio.hal 118.
[13] Op.Cit.Dr.M Syafi’I Antonio.hal 131.

Tidak ada komentar: